Updates from June, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Fauzi EVR 10:52 am on June 20, 2012 Permalink | Reply
    Tags: curanmor, mobil pikap, motor matic, yamaha mio   

    Awas Curanmor! 

    Diolah kembali dari http://mahasiswaarsitektur.wordpress.com/2012/06/01/awas-curanmor/
    Transportasi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia saat ini, terutama bagi mereka yang hidup di daerah perkotaan. Sayangnya, sarana transportasi massal yang ada di negeri ini sekarang rata-rata masih banyak yang belum bisa diandalkan. Oleh karenanya, banyak orang kemudian memilih untuk memiliki kendaraan pribadi untuk memenuhi kebutuhan transportasinya. Adanya kendaraan pribadi, entah itu mobil atau motor, tentunya akan memberikan kemudahan bagi masyarakat urban yang kebanyakan memiliki mobilitas tinggi.

    Sayangnya, akhir-akhir ini, pencurian kendaraan bermotor (curanmor), terutama di Surabaya, dilaporkan kembali marak. Terbayang bagaimana repotnya kalau sampai kendaraan kita menjadi sasaran pencurian ini. Bukan hanya mengalami kerugian materiil senilai kendaraan tersebut, kita juga pasti akan kerepotan dan banyak urusan kita yang mungkin jadi berantakan karena tiba-tiba saja mobilitas kita menjadi sangat terbatas. Tentunya kita perlu meningkatkan kewaspadaan agar nantinya kita tidak menjadi salah satu korban curanmor ini. Dalam postingan berikut ini, saya akan paparkan beberapa hal mengenai curanmor ini, bukannya untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberikan informasi yang semoga bisa membuat kita menjadi lebih berhati-hati lagi. Mari disimak!

    Kendaraan lawas atau dalam kondisi kurang gress tidak luput dari sasaran pencuri.

    Jangan salah sangka. Memiliki mobil atau motor keluaran lama tidak membuat Anda bisa mengurangi kewaspadaan. Bukan berarti kendaraan Anda sudah aman dari incaran pencuri hanya karena dalam anggapan Anda mereka lebih memilih untuk menggasak kendaraan yang lebih gress. Belum tentu.

    Dalam banyak kasus, yang menjadi sasaran pencurian justru adalah kendaraan lawas. Hasil curian kendaraan lawas ini nantinya akan ‘dikanibal’. Maksudnya begini, penadah punya stok kendaraan bobrok yang sudah tidak bisa dipakai lagi, padahal surat-suratnya lengkap. Si penadah ini kemudian mencari orang yang bisa mendapatkan kendaraan dengan jenis yang sama. Nomor mesin dan nomor rangka kendaraan bobrok tadi lalu ditempel pada kendaraan hasil curian, membuatnya seolah-olah kendaraan yang surat-suratnya lengkap. Itulah yang dimaksud dengan ‘dikanibal’. Tapi misalnya barang yang didapat tidak sesuai dengan pesanan, biasanya hasil kejahatan tersebut langsung dilempar kepada penadah onderdil bekas atau ke daerah pelosok yang jarang dijangkau polisi.

    Hati-hati para pemilik motor matic!

    BIla diperhatikan, sekarang ini semakin banyak saja pengendara motor matic yang berseliweran di jalanan. Apalagi, para produsen motor sepertinya bertambah gencar memproduksi & mempromosikan jenis motor yang sekarang sudah banyak sekali macamnya ini. Alhasil, permintaan pasar terhadap spare part motor matic ini pun otomatis melonjak. Barangkali, hal inilah yang melatarbelakangi tingginya angka curanmor terhadap kendaraan jenis matic akhir-akhir ini, terutama di Surabaya. Selain motor matic, yang sering dilaporkan hilang untuk kendaraan roda empat adalah mobil jenis pikap atau van. Untuk kendaraan jenis ini, motifnya kemungkinan rata-rata ya untuk dikanibal tadi.

    Meskipun dua jenis kendaraan tadi mencatat angka kejahatan tertinggi, bukan berarti pemilik kendaraan jenis lain lantas bisa ongkang kaki bersantai-santai begitu saja. Kasus yang melibatkan kendaraan jenis lain toh tetap ada walaupun jumlahnya mungkin tidak sebanyak motor matic atau pikap. Jadi, seperti kata Bang Napi: Waspadalah! Waspadalah!!!

    Tidak ada tempat yang benar-benar aman.

    Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, dilaporkan kasus curanmor di Surabaya ditemui paling banyak di area pemukiman sebanyak 22 kasus, disusul jalan umum (12 kasus), pertokoan, & tempat parkir masing-masing 3 kasus. Artinya, tidak ada tempat yang benar-benar aman. Kalau tempat parkir yang jelas-jelas dijaga saja masih bisa kecolongan, apalagi tempat yang tanpa penjagaan.

    Selain itu, ramai atau tidaknya situasi suatu tempat juga sudah tidak bisa lagi dijadikan patokan. Daerah yang sepi sudah pasti lebih rawan. Namun, daerah yang ramai pun tidak sepenuhnya lepas dari resiko. Masalahnya, sekarang para pelaku curanmor sudah memiliki perangkat khusus dalam beroperasi. Bahkan, perangkat ini biasanya telah disesuaikan dengan jenis kendaraan sasarannya. Misalnya untuk motor matic merek Yamaha Mio, maka alat yang digunakan adalah alat khusus untuk jenis kendaraan tersebut. Untuk motor atau kendaraan jenis lain, alat yang digunakan pun akan berbeda lagi. Dengan begitu, aksi mereka dapat dilakukan dengan mudah dalam hitungan detik saja. Alhasil, beroperasi di tempat ramai sekalipun bukan lagi menjadi masalah karena para pelaku dapat melarikan diri dengan cepat. Bahkan, bagi orang yang tidak memperhatikan, mereka ini mungkin saja dikira pemilik motornya sendiri yang menyalakan kontak.

    Tips mengantisipasi curanmor

    Karena saya bukan orang yang tahu banyak perkara ini, berikut saya berikan beberapa link ke website yang memberikan tips yang bermanfaat terkait curanmor yang bisa Anda simak.

    http://humaspoldametrojaya.blogspot.com/2009/08/tips-mencegah-curanmor-roda-dua.html

    http://blog.qitanet.com/tips-mencegah-pencurian-kendaraan-dan-merakit-pengaman-motor-sederhana.html?lang=id#more-428

    http://www.jgmotor.co.id/tips-menghindari-curanmor/

    Ronny Fauzi (*)

    Advertisements
     
  • Fauzi EVR 4:34 pm on October 31, 2011 Permalink | Reply  

    (GoVlog – Umum) Perang Ulat Bulu 

    Gue inget banget, dulu waktu masih SMA, gue cuma seorang anak yang kurus kerempeng, item, dekil, dan jerawatan. Bener-bener bukan suatu masa yang bisa dibanggain. Tapi itu toh udah berapa tahun yang lalu, sekarang beda lagi. Waktu berganti dan sekarang gue udah jadi anak yang kurus kerempeng, item, dekil, jerawatan, dan kuliah. Waktu itu, gue nyadar kalau gue bukan anak basket yang dengan tampang pas-pasan sekalipun pasti gampang banget dapet perhatian dari cewek-cewek. Maka gue memilih cara lain buat eksis.

    Waktu kelas 2 SMA, gue aktif banget ikutan OSIS & berbagai macam kepanitiaan event-event yang diadain di sekolah gue. Sumpah, masa-masa itu adalah masa-masa kejayaan gue. Gue jadi berasa kayak orang yang sok penting banget. Tiap pulang sekolah musti rapat begini-begitu, pas jam pelajaran juga sering keluar kelas buat ngurusin ini-itu atau minta tanda tangan sana-sini. Nggak jarang, kesempatan ini juga gue manfaatin kalau lagi pengin bolos dari beberapa pelajaran tertentu. Hehehe…

    Nggak ada alasan khusus sih masang foto ini. Seneng aja soalnya di foto ini gue keliatan cakepan dikit.

    Sayangnya, waktu terus berjalan dan gue pada akhirnya harus sampai di penghujung masa kelas 2 SMA. Gue udah mau lanjut kelas tiga, artinya gue harus ngelepasin berbagai kegiatan tadi dan fokus belajar buat ujian akhir. Setahun kemudian, gue udah lulus (alhamdulillah yah bisa lulus) dan harus ninggalin bangku SMA demi mengejar cita-cita gue menjadi seorang penyanyi dangdut arsitek. Yah, bisa dibilang, masa akhir kelas dua itu adalah salah satu masa galau yang gue alami selama sekian tahun gue nyicipin bangku sekolahan. Sebuah pertanyaan besar menghampiri benak gue. Pertanyaan besar itu adalah ‘GIMANA CARANYA GUE BISA TERUS EKSIS DI SEKOLAH INI? GIMANAA… GIMANAA… GIMAANAAA…???’ *joget Ayu Ting-Ting*.

    Gara-gara mikirin hal ini, gue jadi berubah. Gue jadi pendiam. Di kelas, gue duduk sendirian, kepala gue nunduk aja di atas meja, tangan gue ngepal, dahi gue agak keringat dingin, badan gue gemetar, perut gue melilit. Gue sadar kalau gue harus melakukan satu hal: minta izin pergi ke WC buat boker. Di WC, entah kenapa, gue bisa lebih konsentrasi. Gue kembali mikirin cara-cara yang bisa gue tempuh buat memperpanjang masa kejayaan gue.

    Ah, social media tentu aja. Gue bisa pakai Facebook atau Twitter buat numpang ngeksis ke anak-anak SMA bahkan kalaupun gue udah lulus. Tapi ada kelemahannya. Ngeksis di dunia maya tanpa terlihat eksis di dunia nyata itu sangatlah lame buat gue. Ibarat kata pepatah, bagaikan boker sambil kayang, sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan (eh, nggak nyambung ya?). Lagian, tanpa ketemu langsung, bakalan susah buat berusaha menggauli bergaul sama anak-anak baru. Masa iya gue harus add FB mereka satu-satu dan nge-post hal-hal nggak penting kayak ‘Hai, leh nal gak?’ atau ‘Like status FB-ku dong!’ ke wall mereka. Bisa-bisa gue malah dibalesin, ‘Mas, tolong cari teman bergaul yang seumuran ya…’

    Gue masih di dalem WC ceritanya. Gue juga masih mikirin nasib masa depan gue sambil sekali-kali ngejan kalau ada ‘pup’ yang bandel. Sekali waktu pas gue lagi ngejan, ternyata bukan cuma ‘itu’ yang keluar, tapi juga pikiran cemerlang gue. tiba-tiba aja kayak ada layar film gitu dipasang di depan gue. Ada gambar hitam putih ala-ala film lawas yang menayangkan orang-orang dewasa yang pakaiannya rapi jali, ngelipet tangan di depan dada, ada juga yang berkacak pinggang, bergerombol sambil ngeliatin sekumpulan anak muda push-ups di depan mereka. Semua gambar tadi diputer slow motion. Ah, gue nyaris aja nangis terharu karena akhirnya amunisi terakhir gue keluar bersamaan dengan selesainya gambar tadi.

    JADI SENIOR EKSKUL! Itulah jawaban atas kegalauan yang gue alami. Dengan jadi senior, gue bakalan ngerasa bebas main-main ke sekolah dan ‘memain-mainkan’ junior gue kalau gue udah lulus. Akhirnya, gue putusin buat ikutan ekskul, satu hal yang nggak pernah gue ikutin waktu kelas satu & kelas dua. Lebih spesifik lagi, gue bakalan ikut ekskul pecinta alam karena cuma di ekskul inilah senioritas berlaku seumur hidup. Bahkan, kalau lo udah punya anak cucu sekalipun, lo tetep bisa main-main sama anak baru.

    Setelah gue siram ‘hasil kerja’ gue di kloset, gue pakai celana gue dan mulai ketawa jahat, ketawa yang mengerikan. Gue terus ketawa sampai ada yang ngegedor-gedor pintu sambil teriak, “WOII..!!! BUKA DONG!! NGAPAIN AJA LU DI DALEM? BOKER APA BERANAK? “. Gue nggak peduli, yang ada di pikiran gue cuma bayangan diri gue sebagai seorang senior, yang kurus kerempeng, item, dekil, dan jerawatan.

    ***

    Satu hal yang gue pelajari setelah gue gabung di pecinta alam adalah nggak ada senioritas yang instan. Meskipun gue udah kelas tiga dan kenal anak-anak pecinta alam lain yang seangkatan sama gue dan itungannya udah senior, tetep aja gue berstatus ‘anak baru’ dan musti ngejalanin proses selayaknya anak baru yang lain, mulai dari nol.

    Salah satu proses awal tersebut nggak lain dan nggak bukan adalah diklat yang diadain di alam bebas, jauh dari peradaban manusia, memungkinkan gue digelindingin ke jurang sama senior tanpa ada saksi mata yang tahu. Atau bisa aja gue dilecehkan secara seksual di balik semak-semak sama macan yang lagi birahi waktu musim kawin. Atau juga, gue diculik sama suku primitif setempat yang masih menganut paham kanibalisme, trus gue dimutilasi atau dipanggang hidup-hidup. Atau, atau… Oke, gue parno. Tapi itu wajar. Gue pengin jadi seorang senior yang sangar, bukan korban dari senior yang sangar.

    Beberapa bulan sebelum diklat gue berusaha sekeras mungkin buat bertahan. Gue ikutin semua prosesnya dengan baik. Mulai dari ikut latihan fisik dan latihan rutin lain sampai materi di kelas dan “materi” di luar kelas. Gue sempet mikir, mungkin ada gunanya juga gue ngikutin proses ini. Paling nggak, kalau ntaran gue gagal jadi senior yang ditakutin karena muka gue yang lebih cenderung mesum bukannya serem, gue masih punya kesempatan buat jadi senior yang ditakutin karena badan gue yang gempal-gempal ngeri. Bagi yang nggak ngerti apa yang gue maksud, nih, silahkan diperhatikan foto ini baik-baik:

    Sebelumnya, tolong jangan mikir kalau itu foto anak kecil yang kegirangan digendong sama bapak-bapak tentara. Coba diperhatikan, yang di atas, yang mukanya bahagia banget kayak homo abis dicium Brad Pitt, itu gue. Sorry kalau ada yang kecewa begitu ngeliat tampang gue yang sebenarnya. Mungkin kalian mikir muka gue bakalan seganteng Robert Pattinson. Aduh, ekspektasi kalian terlalu tinggi, sorry. Nah, yang di bawah itu adek kelas gue. Biar gue ulangin, dia itu adek kelas setahun di bawah gue yang umurnya notabene lebih muda daripada gue tapi statusnya lebih senior di ekskul pecinta alam yang gue ikutin dan badannya dua kali lipat lebih gede.

    Oh, mungkin ada yang sempat mikir anak itu tiap hari mandi berendam di minyak tanah, makanya badannya bisa ngembang gitu. Gue sempet kepikiran yang sama, tapi harga minyak tanah waktu itu lagi mahal-mahalnya, jadi gue lupain hipotesis tadi. Yang jelas, si Aji, nama anak tadi, badannya mulai kebentuk kayak gitu sejak dia gabung di PA. Sebelumnya, dia nggak segempal itu.

    Nah, ini jadi motivasi dong buat gue. Kalau Aji baru setahun gabungan di PA badannya udah gitu aja, mungkin dalam waktu yang sama badan gue udah secakep Taylor Lautner kali ya.

    push-ups ratusan kali pun gue jabanin demi badan seksi

    Berbekal niat mulia seperti itu, gue pun rajin ikut latihan fisik yang diadain. Gila, ternyata nggak segampang itu, badan gue yang kurus tapi seksi ini ternyata nggak gampang diajakin olahraga berat. Untung aja gue masih bisa bertahan hidup sampai waktu diklat tiba.

    Hari H diklat, gue makin deg-degan. Tangan gue ngepal gemeteran dan dahi gue keringat dingin. Gue pengin boker. Saat-saat yang menegangkan seperti ini selalu bikin perut gue bekerja lebih efektif. Lain kali, kalau gue sembelit, tinggal ngelakuin hal-hal yang memacu adrenalin aja, misalnya lari ke ruang guru dan teriak-teriak bodoh “TOLONG JANGAN BILANG MEGAN FOX ITU BANCI!!” sambil kayang di tengah ruangan. Wah, menegangkan banget itu! Pasti setelah itu gue bisa pup dengan tenang, pastinya setelah dianiaya di ruang kepala sekolah akibat kenistaan yang gue perbuat.

    Setelah memantapkan hati sekali lagi dan memastikan perut gue udah aman, gue pun siap mengikuti diklat dan menyerahkan diri ke senior sepenuhnya. Selama upacara keberangkatan, gue berulang-ulang ngomong ke diri gue sendiri dalam hati, “Gue bakalan baik-baik aja, gue bakalan baik-baik aja. Gue nggak akan diperkosa sama macan horny, gue nggak akan diperkosa sama macan horny,” sampai gue bener-bener ngerasa tenang.

    Nungguin? Nungguin ya? Pasti udah bosen ya baca dari tadi panjang banget nggak selesai-selesai. Apalagi perkara ulat bulu yang jadi judul postingan ini sampai sekarang belum disebut-sebut. Sabar dong, santai aja kayak dibantai. Pepatah bilang orang sabar nggak gampang sembelit (oke, nggak nyambung lagi).

    Eh, jadi makin nggak selesai ya kalau ngelantur gini. Daripada makin emosi, ceritanya gue cepetin aja ya.

    Singkat cerita, gue bersama peserta yang lain udah nyampe di lokasi diklat, area hutan di bukit daerah Trawas, Mojokerto yang dikelilingi pegunungan. Setelah nyampe di lokasi dan sholat bentar, kami semua langsung lanjut tracking ke lokasi camp pertama. Tracking yang bikin kaki cenat-cenut karena jalanannya makadam (jalan berbatu gede-gede) lumayan panjang sebelum masuk ke hutan, mana ditambah hujan pula. Repotlah ya jalan pake sepatu ABRI yang keras itu lewat jalan batu-batu sambil bawa tas carrier gede dan berat ditambah keserimpet-serimpet jas hujan kelelawar.

    Sisa kegiatan setelah itu bisa gue laluin dengan cukup baik. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang (Avatar Aang mode: on). Malem hari, kelar bikin bivak (tenda darurat) dari jas hujan dan masak mie instan buat ngisi perut dan anget-angetan, gue ngerasa perlu pipis dulu sebelum tidur, sekedar jaga-jaga siapa tahu tidur di alam terbuka kayak gini bikin kebiasaan ngmpol gue kambuh. Melipirlah gue ke semak-semak tak bertuan di sekitar situ. Gue sengaja nyari yang nggak jauh-jauh amat dari camp sih, asal nggak keliatan orang aja. Kan repot juga kalau gue lagi pipis trus nggak sengaja ada kuntilanak mergokin. Kalau dia nafsu, trus guenya diculik, kan susah teriak minta tolong kalau jauh-jauh.

    Usai menunaikan tugas mulia, gue baru nyadar satu hal, gue nggak bawa air atau tissue. Udah jadi kebiasaan buat gue kalau abis pipis selalu ngebersihin ‘peralatan’ gue pakai air, paling jelek tissue lah. Kan najis juga kalau abis pipis langsung ditutup, kalau ada tetesan yang nyisa gimana coba? Karena nggak mungkin balik buat ngambil tissue dengan celana yang mempertontonkan aset pribadi gue, gue pun inisiatif buat ngambil daun buat ngelap.

    Dalam kegelapan, gue ngeraba-raba badan gue sendiri daun di sekitar gue. Terus terang, gue nggak punya kriteria khusus dalam memilih daun. Nggak perlu tinggi, putih, dan bohai kok (ini daun apa cewek?), asal nge-klik di hati, langsung gue pilih. Jadi, begitu gue megang satu daun dan ada keyakinan yang nggak bisa dijelasin muncul dalam hati gue, langsunglah gue petik. Set-set-set, lap-lap, beres. Gue udah bisa tidur enak.

    Baru aja gue balik badan mau balik ke bivak, tiba-tiba aja, “DARN, APA-APAAN NIH!? kENAPA TIBA-TIBA ADA BANYAK NYAMUK DALEM KEMPAS GUE YA?” Sumpah! Gue ngerasa ada banyak banget nyamuk bersarang dalem CD gue Dari rasa-rasanya, ada kali ya seratusan nyamuk yang nemplok dan nggigit di saat yang bersamaan di area sensitif gue. Rasanya tuh… panas dan… cekit-cekit… cekit-cekit… gitu. Spontan gue buka dikit celana sama kempas gue dan gue kibas-kibasin tangan gue di situ. Maksudnya, biar nyamuknya pada pergi gitu. Tapi kok nggak ada nyamuk sama sekali ya. Gue raba-raba ‘daerah lelaki’ gue sampai ke belakang-belakang, barangkali ada hewan kecil atau apa. Nggak ada apa-apa!

    Gue mulai panik. Lagu ‘Jangan Pipis Sembarangan’ sekonyong-konyong bergema dalem otak gue. Mungkin tadi itu ada om jin yang lagi bobok terus nggak sengaja gue kencingin kali ya? Ya tapi mau gimana lagi. Mana gue tahu ada om jin lagi tiduran di situ. Dia tuh yang bobok sembarangan, bukan gue yang pipis sembarangan.

    Setelah beberapa saat gue pun mulai pasrah. Nggak mungkin juga gue minta tolong senior. Gue nggak bisa aja menghadap ke senior dengan muka melas sambil bilang, “Mas, kayaknya ada yang salah sama titit saya. Bisa tolong liatin nggak?” Nggak, gue nggak bisa! Akhirnya, gue pasrah jalan balik ke camp.

    ulat bulu, yang jadi "kambing hitam" dalam insiden ini

    Di camp, gue ngeliat temen gue, Donny, yang baru beres bikin bivak. Ah, gue butuh curhat, siapa tahu juga Donny punya solusi atas krisis yang gue alami. Sambil jalan petantang-petenteng nahan sakit & krenyeng-krenyeng, gue samperin Donny yang baru kelar beresin bivaknya sendiri. Gue ceritain semua barusan gue alamin. Abis cerita, gue udah siap-siap mau ngejorokin Donny ke jurang kalau-kalau dia bersikeras pengin ngeliat dan megang-megang apa yang ada di dalem kancut gue. Ternyata dia cuma bilang, “Oh, mungkin kena ulat bulu…” dengan nada datar.

    Gue nunggu. Mungkin aja ada info tambahan yang mau dia bagi lagi, kayak misalnya, “Biar sembuh lo harus nyemplung ke dalem kawah Gunung Merapi,” atau “Sorry banget, gue nggak tahu cara nyembuhinnya. Tapi jangan khawatir, sebagai temen yang baik, gue bakal nyerahin harta warisan keluarga gue seluruhnya buat lo. Lo bisa pakai duit itu buat berobat sampai sembuh dan juga bersenang-senang” Tapi nggak ada, dia nggak bilang apa-apa lagi. Dia malah dengan enggan kembali menyibukkan diri sama bivaknya. Ah, gue harusnya udah tahu. Sebagai sesama peserta, dia sama nggak berdayanya kayak gue. Dari raut mukanya yang kecapekan, gue tahu banget kalau udah pengin buru-buru tidur sebelum tenaganya dikuras lagi besoknya. Gue juga pengin pergi tidur secepatnya. Tapi, rasa gatel-panas-perih di selangkangan gue rasanya bakalan ngeganggu baget.

    Karena udah nggak tahu lagi musti ngapain, akhirnya gue balik ke bivak gue sendiri dan berbaring di dalamnya. Pikiran gue bergejolak, nggak tenang banget. Gue putusin buat merem aja, nyoba buat tidur. Siapa tahu tidur bisa ngurangin bahkan ngilangin rasa sakit yang menyiksa yang telah memilih tempat yang salah buat nongkrong itu. Sebelum tidur, gue sempet berdoa, “Tuhan, jika Kau masih sayang pada hamba, maka selamatkanlah ‘titit’ku dari bahaya yang mengancam ini. Jika tidak, maka perkenankanlah aku menghabiskan sisa hidupku bersama Kim Kardashian.” Dan gue memejamkan mata, membawa serta semua rasa sakit dan Kim Kardashian ke alam mimpi gue…

    ***

    Gue bersyukur banget karena waktu bangun pagi besoknya rasa sakit-perih-cekit-cekit di area sensitif gue udah ilang dan gue baik-baik aja. ‘Adek kecil’ gue juga masih berfungsi dengan baik sampai sekarang. Alhamdulillah yah… Akhirnya gue bisa ngejalanin sisa diklat yang masih bejibun itu sampai tuntas.

    Semua gue jalanin dengan baik sih, kecuali satu kebodohan yang luar biasa nista yang gue bikin tepat sehari setelah insiden pipis sembarangan. Kejadiannya persis kayak hari sebelumnya, gue pengin pipis sebelum tidur, dan lagi-lagi kelupaan bawa tissue. Keinget omongannya Donny kalau kemarin gue kena ulat bulu, sekarang ini gue jadi lebih hati-hati banget milihin daun. Gue pastiin daun yang gue pilih ini adalah daun yang benar-benar bebas dari ulat bulu.

    Abis milih-milih daun selama beberapa saat, gue ambillah satu daun yang paling memenuhi persyaratan dan gue pake ngelap. Set… set… set… Gue nunggu bentar. Ah, alhmadulillah yah… RASA SAKITNYA MUNCUL LAGI!! Sumpah deh, gue jadi bingung. Rasanya pilihan gue udah tepat banget deh, nggak ada ulat bulunya, tapi kok tetep gatel perih ya? Belajar dari pengalaman sebelumnya, gue pun balik ke camp buat langsung tidur, karena tidur tampaknya satu-satunya hal yang bisa gue lakuin buat bikin keadaan lebih baik. Lagipula, rasa sakitnya nggak seheboh kemarin kok. Mungkin udah agak kebal kali ya.

    Belakangan, gue tahu kalau penyebab rasa sakit-perih-panas-luar-biasa-menyiksa yang gue rasain itu bukanlah ulat bulu, tapi emang tanaman yang gue pakai ngelap. Itu emang jenis tanaman yang menimbulkan sensasi luar biasa gitu kalau kena kulit bagian mana pun, bukan cuma kulit selangkangan. Tapi tetep aja pengetahuan baru itu nggak bisa mencegah gue ngelakuin kebodohan berikutnya.

    Beberapa waktu setelah acaranya kelar, diadain evaluasi diklat kemarin. Yah, namanya evaluasi sih, tapi formatnya lebih ke sharing-sharing gitu soal bayak hal terkait diklat, termasuk pengalaman unik dan seru yang mungkin dialamin pas diklat.

    Nggak tahu kenapa ya tiba-tiba aja gue ngacung. Itulah kebodohan gue. Dan karena udah terlanjur ngacung, mau nggak mau gue musti ngasih cerita juga ke semua yang dateng waktu itu. Semua orang mulai nyimak cerita gue dengan serius, beberapa nyimak sambil nyemil, ada juga yang nyimak sambil maenan handphone, bahkan ada juga yang nyimak sambil motongin rumput di taman depan. Eh, ternyata itu emang tukang kebun yang lagi kerja.

    Sebelum mulai cerita, gue tarik napas panjang-panjang, nyiapin mental gue. Setelah ngerasa bener-bener siap, baru gue cerita semuanya, termasuk soal ulat bulu. Belum juga kelar cerita, semua yang hadir udah ngakak aja nggak karu-karuan. Yang bikin gue sendiri heran, ngeliat orang-orang pada kesetanan kayak tadi, bukannya berhenti, gue malah lanjut cerita kalau kebodohan itu gue ulangin lagi hari berikutnya. Walhasil, ketawa orang-orang tadi malah makin keras dan meledak-ledak.

    Mas Gales, salah seorang senior gue, dengan masih nggak bisa nahan ketawa, tanya ke gue, “Wuahahaha… Ulat bulu ketemu ulat bulu! Terus, akhirnya yang menang ulat bulu yang mana?” Gue pun menjawab dengan senyum-senyum malu, “Ehh… ya ulat buluku dong, Mas.” Jawaban itu sekaligus menandai dimulainya karir gue sebagai legenda pecinta alam dengan ulat bulu yang kuat. Sejak saat itu pula, setiap kali ketemu anak baru, pesen pertama yang gue sampein selalu sama: JANGAN PERNAH NGELAP SEMBARANGAN KALAU PIPIS DI HUTAN!(*)

    Berkat gabung pecinta alam, mungkin suatu saat gue bisa berkarir sebagai tukang lap kaca gedung-gedung tinggi. Anyway, di foto ini, gue yang sebelah kanan.

    Gue juga bisa jalan-jalan ke tempat keren kayak gini.

    NB: Di awal-awal postingan, gue nulis seolah-olah para senior pecinta alam itu orang-orang yang sangar, jahat, dan nyeremin. Setelah beberapa waktu, gue sadar kalau gue salah. Justru senior-senior gue itu adalah orang-orang hebat yang banyak ngajarin pelajaran kehidupan ke gue. Buat para senior gue, MAICIH BANYAK LEVEL 10 YA…!!

     
  • Fauzi EVR 3:39 pm on October 31, 2011 Permalink | Reply  

    (GoVlog – Umum) Selamat Ulang Tahun! 

    Momen ulang tahun bagi sebagian besar orang dianggap sebagai sesuatu yang istimewa. Gimana nggak, kejadiannya cuma setahun sekali ini, ya harus dilalui dengan bahagia dong. Buat anak sekolahan, cara paling mudah buat tahu ada yang barusan ulang tahun adalah dengan ngelihat area parkiran sekolah, lapangan, atau halaman depan kelas. Kalau ada bekas ceceran tepung atau telur mentah, berarti habis ada yang ulang tahun. Tipikal banget sih.

    Telor, benda yang wajib lo siapin kalo ada temen lo yang lagi ultah. Yang busuk jauh lebih bagus lagi.

    Kalau lo beruntung buat nyaksiin pelemparan telur dan tepung tadi secara langsung, lo bisa ikut-ikutan dong ngelemparin anak yang lagi ultah. Mungkin lo nggak kenal sama dia, tapi itu nggak masalah. Momen ini bakal jadi salah satu momen istimewa dalam hidupnya kan? Nah, dengan ikut berperan dalam peristiwa ini artinya lo juga ikut membantu menciptakan momen istimewa buat dia. Jadi, nggak usah malu-malu, hajar aja!

    Kalaupun ternyata lo nggak sempet ikutan ngerjain anak tadi dan cuma ngeliat bekas-bekasnya waktu nyampe di sekolah besok paginya, tenang! Lo tinggal cari tahu siapa yang ulang tahun. Kalau udah tahu, langkah berikutnya tinggal lo cari cara buat ngedeketin dia. Siapa tahu lo kecipratan traktiran. Lumayan kan?

    Sebagai seorang remaja yang pernah juga mengalami masa-masa labil, gue sendiri pernah beberapa kali ikut andil dalam proses ngerjain orang yang lagi ultah. Salah satu yang cukup sukses adalah waktu gue kelas 2 SMP.

    Yang jadi korban waktu itu adalah temen sekelas gue sendiri yang namanya Ecci. Beberapa hari sebelum hari H ulang tahunnya, tiba-tiba aja ada beberapa orang anak muda berpikiran licik yang punya ide untuk memunculkan sebuah skenario jahat buat ngancurin ngerayain hari istimewa temen gue yang satu itu.

    Ecci ini, sebagai seorang cewek, termasuk cewek yang asyik. Mungkin karena ngerasa nggak cantik-cantik amat, dia akhirnya milih buat nggak tampil girly dan lebih milih gaya yang slengekan. Salah satu kebiasaannya, sekaligus kebiasaan ribuan anak SMP lain termasuk gue, adalah jarang banget ngerjain PR. Nah, titik lemah itulah yang bakal kita serang. Dalam sebuah pertemuan rahasia yang melibatkan sekelompok kecil orang, mulailah dibahas strategi-strategi terjahat yang bisa bikin rencana kita berhasil.

    Provokatornya… Aduh, gue lupa yang mana orangnya. Pokoknya seinget gue yang pertama punya ide kayak gini adalah seorang cewek. Jadi kita sebut aja dia Bunga, siswi sebuah SMP negeri di kawasan Surabaya Barat, usia sekitaran 13-14 tahun. Nah, si Bunga inilah yang punya master plan-nya. Bunga ngebeber rencananya. “Supaya rencana kita sukses, kita bakalan ngajakin Bu Emy buat kerja sama bareng kita. Kita semua TAHU & YAKIN kalau Ecci nggak akan ngerjain PR-nya, jadi Bu Emy nanti nyuruh semua anak ngumpulin tugasnya dan manggil Ecci ke depan kelas sambil pura-pura marah karena tugasnya belum selesai. Mungkin nanti ada temen-temen yang lain, termasuk mungkin kita, yang juga belum selesai. Tapi nggak masalah, kumpulin aja semua biar nggak mencurigakan. Pokoknya siapapun yang belum ngerjain, yang dipanggil tetep Ecci, jadi kita aman.” Gue manggut-manggut. Bu Emy, guru yang ngajar Bahasa Indonesia ini emang asik banget orangnya, akrab sama muridnya, nggak kayak guru-guru yang lain. Kebetulan juga, Bu Emy punya jadwal ngajar kelas kita di hari Ecci ultah. Kloplah!

    Bunga masih belum selesai, dia pun ngelanjutin cerita, “Abis manggil, Bu Emy bakalan marah besar-besaran ke Ecci endebrey endebra endebrow. Nah, kalau udah klimaks, baru deh kita nyanyi lagu Selamat Ulang Tahun bareng-bareng. Gitu kira-kira. Ada yang mau nambahin?”

    Gue udah mau ngacung aja buat ngasih usul. Usul gue, kurang lebih kayak gini:

    (setting adegan di dalam ruang kelas)

    Bu Emy : Dessy (nama aslinya Ecci), kenapa tugas kamu belum selesai?

    Ecci : Eh… anu.. anu, Bu… itu…

    Pemeran temen cewek antagonis : (berteriak keras) Alaaah… Anu, anu aja! Kebanyakan alasan tuh. Udah Bu, kita hukum aja Bu bareng-bareng. Kita bakar dia di halaman sekolah!

    Pemeran temen cowok protagonis : (berdiri sambil nunjuk-nunjuk ke anak cewek tadi) Hei, jangan sembarangan ya kalau ngomong! Mana boleh kita bakar orang sembarangan. Aku masih bisa terima kalau kamu bilang dipasung, tapi kalau dibakar, itu udah keterlaluan. Dibakar itu panas tauk!

    Lalu perdebatan yang sengit pun tak terelakkan. Pihak-pihak yang pro-bakar Ecci -yang ternyata jumlahnya lebih banyak- pun mulai nyeret-nyeret Ecci ke luar kelas sementara Ecci nangis-nangis mengiba dan memelas ke Bu Emy, minta diselamatkan. Tapi, Bu Emy yang cuma seorang PNS biasa, yang gajinya nggak termasuk biaya menyelamatkan anak muridnya dari bahaya dibakar oleh massa, cuma bisa ngasih tatapan nanar buat Ecci.

    Sampai di luar kelas, Ecci langsung diguyur pake bensin sekujur badan. Waktu ada anak yang udah

    Demi efek dramatisasi yang kuat, kehadiran orang tua yang memohon-mohon sangatlah diperlukan.

    nyulut korek api hasil pinjem ibu kantin dan siap-siap dilemparin ke Ecci, tiba-tiba ibu kepsek dateng sebagai pihak penyelamat. Kalau memungkinkan, demi efek dramatisasi yang lebih kuat, mungkin bisa dimunculin tokoh orang tua Ecci yang dateng secara nggak terduga sambil memohon-mohon, “Tolong jangan bakar anak saya! Dia harus menguras bak mandi minggu ini. Kalau kalian bakar dia, SIAPA YANG AKAN MEGURAS BAK MANDI? SIAAPAAAA….???”. NAH! Setelah orang tuanya nangis-nangis itulah baru semua orang tepuk tangan sambil nyanyi lagu selamat ulang tahun. Dramatis banget itu!

    Gue udah nyaris ngebeberin rencana itu sampai otak bisnis gue ngeliat ada peluang yang lebih bagus yang bisa dimanfaatin. Skenario super dramatis yang gue rancang tadi bakal lebih menguntungkan kalau gue jual ke production house buat diangkat jadi cerita sinetron yang tayang di tivi tiap sore. Gue bahkan udah ngebayangin judulnya nih: PUTRI YANG DIBAKAR. Mengingat muatan cerita plus judulnya yang sangat bermutu dan udah pasti meledak di pasaran, gue rasa nggak berlebihan juga dong kalau misalnya gue minta ikutan syuting & jadi pemeran utama pria sebagai salah satu syarat cerita gue bisa digarap?

    Akhirnya, gue batalin keinginan gue buat ngasih usulan, biarin aja mereka ngejalanin rencana mereka sementara gue simpen rencana super yang lebih besar buat diri gue sendiri. Ah, gue bahkan bisa ngebayangin masa depan gue sebagai seorang aktor yang populer dan digandrungi para waria wanita, nggak ketinggalan juga duit bejibun yang bakal ngalir ke rekening gue pastinya, hasil main sinetron…

    ***

    Hari H penjebakan akhirnya datang juga. Rencana kejutan hari ulang tahun Ecci udah mulai beredar secara under ground. Hampir semua anak di kelas, kecuali Ecci pastinya, udah tahu bakalan ada gawe besar hari itu Semua pun tanpa banyak komentar lagi rasanya udah sepakat untuk menyukseskan rencana tersebut, dimulai dengan nggak ngucapin selamat ulang tahun sama sekali dan bersikap cuek-cuek jutek kalau ketemu sama Ecci.

    Ironisnya, Ecci yang jadi pemeran utama hari itu malah kelihatan sumringah banget dari pagi. Dikit-dikit jalan sana-sini, ngedeketin tiap anak sambil senyam-senyum mesum dan cengar-cengir nyinyir. Gayanya yang udah slengekan jadi makin sok asik gitu.

    Gue jadi ngerasa heran sendiri deh sama si Ecci Bayangin dong, dari semua orang yang dia samperin, nggak ada satu pun yang bersikap ramah, semuanya pada dingin dan cuek gitu nanggepin Ecci. Tapi, nggak tahu karena kelewat polos atau gimana ya, tetep aja dia nggak ngendus adanya skenario konspirasi besar yang sedang dijalankan diam-diam dan bertujuan untuk menjatuhkannya (weitseh bahasanya). Mukanya masih aja menampilkan aura-aura mesum bahagia tiada tara.

    Dari semua hal tadi, kesalahan terbesar yang dibuat Ecci terjadi waktu istirahat: dia pada nraktir temen-temen sekelasnya di kantin. Dan emang pada dasarnya oportunis ya, meskipun sedang dalam aksi pura-pura jutek, tetep aja kalau udah dikasih traktiran nggak ada yang bisa nolak. Akhirnya, mau nggak mau anak-anak pada ngasih ucapan selamat ulang tahun yang setengah hati, sekedar tindakan normatif lah. Parahnya, abis ditraktir anak-anak pada balik ke sifat semula, jutek & cuek. Meeeen…. kalau gue jadi Ecci, gue bakal mastiin masing-masing makanan yang dibagiin tadi udah dikasih racun tikus dulu sebelum masuk perut para teman-teman busuk tadi. Yah, sebagai salah satu temen busuk tersebut, sebenernya gue bersyukur juga sih karena abis makan jajan yang dibeliin Ecci gue masih hidup, jadi bisa lanjut pura-pura jutek palsu dan ikut berperan dalam acara utama nantinya. Hehehe…

    Singkat cerita, waktu yang telah ditunggu-tunggu pun tiba. Bu Emy, pemegang kunci utama pertunjukan masuk ke arena pementasan kelas. Setelah basa-basi dikit, beliau langsung nyuruh semua anak ngumpulin PR ke meja guru. As usual, anak-anak pada ngumpulin dengan grusa-grusu. Grusa-grusu palsulah yang jelas, biar nggak terlalu mencurigakan gitu. Ecci sendiri gue lihat mulai kelihatan cemas & gelisah. Mungkin dia lagi mikirin nasib Ayu Ting Ting yang masih belum nemu alamat palsunya (eh, nggak nyambung ya?). Pada akhirnya, mau nggak mau, rela nggak rela, Ecci musti ngumpulin PR juga. Ngeliat betapa beratnya dia ngelangkah ke meja guru, gue tebak dia mendadak kena syndrom kaki gajah ting ti waktu itu.

    Semua buku udah ngumpul di depan, berikutnya anak-anak pada anteng ngeliatin Bu Emy ngambil buku tugas satu per satu dan ngebolak-balik halaman demi halaman. Semua harap-harap cemas. Well, dalam keadaan normal emang ‘semua’ sih, tapi dalam kasus ini, mungkin kata ‘semua’ bisa diartikan sebagai ‘Ecci seorang diri’.

    Setelah menunggu beberapa saat, tiba juga waktunya… *backsound playing: musik orkestra serem kayak yang disetel di Spongebob episode dolar kesejuta Mr Krab* Bu Emy manggil Ecci ke depan kelas, “Dessy, maju ke depan!” Wah, pemanggilan sudah dilakukan! Skenario dimulai! Gue tegang banget! GUE BUTUH BOKER!! Ah, gue nggak mau nyia-nyiain momen ini. WC, kita bermesraan belakangan.

    Suasana hening sebentar. Semua orang menatap lurus ke depan. Sama sekali nggak ada yang berani bersuara, berbisik, bahkan bergerak sedikit pun. Gue bersyukur semua orang waktu itu masih tetep berani bernapas. Momen-momen seperti ini, momen dimana waktu seolah membeku sesaat dan ketegangan mengambang di udara, istilahnya building the tension. Mungkin sengaja diciptain sama Bu Emy biar Ecci bisa nyiapin mentalnya dulu bentar sebelum menerima kejutan yang lebih besar.

    Selanjutnya, kayak baca novel thriller, alur yang awalnya lambat terus diseret makin cepat dan makin menegangkan. Dimulai dengan pertanyaan datar ‘Kenapa kok belum ngerjain PR?’ dari Bu Emy, terus jawaban bohong seadanya dari Ecci, makin lama makin seru dengan bentakan-bentakan di antara kegelisahan dan ketakutan Ecci. Gue sendiri nggak gitu ingat banyak detail saking terhipnotisnya sama kemampuan akting luar biasa dari guru Bahasa Indonesia tercinta gue yang bernama Bu Emy. Bener-bener total! Gue nggak nyangka aja Bu Emy yang tiap hari orangnya asik, friendly, dan humoris tiba-tiba bisa meledak kayak bom nuklir gitu. Gue rasa emang Bu Emy, dengan kualitas akting jempolan kayak gitu, pas banget jadi pemeran antagonis utama di sinetron “Putri yang Dibakar”. Gesture-nya, mata melototnya, raut muka marahnya, bibir yang menyeringai mengancam, sumpah, Bu Emy juara! Dapet banget! Klimaksnya adalah waktu Bu Emy seinget gue ngebentak Ecci keras sambil ngegebrak meja.

    Ngelihat Bu Emy yang menjadi-jadi kayak gitu, walhasil seluruh kelas jadi ikutan keder dong, semuanya diam terpaku di bangku masing-masing. Tapi karena berhadapan langsung, efek yang dirasain Ecci pastinya berjuta-juta kali lebih dahsyat. Makanya, nggak heran deh kalau Ecci sampai nangis. Ya, saudara-saudara! Nangis! Dan itu air mata betulan, bukan iler atau ingus encer yang keluar dari mata.

    Nggak lama setelahnya, Bu Emy langsung ngomong, “Ya udah, lain kali jangan diulangi lagi. Sekarang ibu mau ngucapin dulu, SELAMAT ULANG TAHUUUN!!” Kedua tangan Bu Emy diangkat tinggi-tinggi, ngasih kode buat anak-anak yang langsung nyanyi lagu Happy Birthday bareng-bareng Nah! Kena deh! Anak-anak yang tadinya menggigil ketakutan di bangku masing-masing sekarang ikutan berdiri dan nyanyi lagu Happy Birthday keras-keras sambil tepuk tangan. Beberapa anak cewek yang agak terlalu antusias malah naik ke atas meja buat joget-joget, kayang, atau bahkan nyopotin seragamnya dan dilambai-lambaiin pake satu tangan. Oke, yang terakhir itu cuma imajinasi liar gue. Sorry.

    Ecci sendiri yang baru nyadar peristiwa yang berlangsung akhirnya tersenyum pahit, tapi tetep nggak berhenti nangis. Emang susah berhenti sih kalau nangisnya udah kayak Ecci. Dia nangis sesengukan sampai bahunya ikut keangkat-angkat kayak orang cegukan dan kesusahan ngomong gitu. Lo tahulah model nangis yang gue maksud, model-model nangis jaman SD dulu waktu kita dikampleng atau dijorokin sampe nyusrug ke aspal sama temen kita yang nggak terima kita ngolok-ngolokin nama bapaknya. Itu kan jenis nangis yang nggak bisa langsung ilang sekalipun lo dikasih permen satu minimarket supaya diem. Ya gitu itulah…

    Mungkin Ecci ngira setelah itu semuanya udah berakhir dan sisa hari itu bakal dia lalui dengan penuh kebahagiaan. Gue juga mikir kayak gitu sampai satu tragedi lain terjadi. Sepulang sekolah, tepat di halaman depan kelas, begitu keluar, Ecci tiba-tiba aja jadi sasaran lemparan tepung terigu & telur mentah. Standar aja sih sebenernya, ala ala anak sekolah pada umumnya. Tapi meskipun itu bukan kejadian yang pertama di dunia, tetep aja heboh. Seru aja sih ya bisa neplokin telur sama terigu ke muka orang lain. Kepuasan pribadi gitu, sesuatu deh!

    Bukan, bukan, ini bukan Ecci. Terlalu cantik ya... Ini cuma illustrasi kok.

    Dalam keadaan normal, gue akan dengan senang hati ngasih andil dalam ‘pesta’ itu. Cuman, gue ngeliat kondisinya agak kurang kondusif. Anak-anak keliatan brutal banget maennya. Mungkin ini semacam pelampiasan gitu ya karena sebelumnya peran mereka nol banget, semua dipegang sama Bu Emy. Dan Ecci, buruan kita hari itu, tampil nggak kalah agresif. Setelah tadi sepanjang pelajaran Bahasa Indonesia dia dibikin ketar-ketir setengah mati, sekarang giliran dia balas dendam dengan berusaha memberikan siapa pun yang ada di dekatnya sebuah pelukan hangat atau belaian mesra dengan tubuhnya yang lengket berlumuran terigu, telor mentah, dan air yang disiramin anak-anak.

    Meskipun kondisinya waktu itu kacau banget, untung aja nggak sampe kayak begini juga.

    Ngeliat kekacauan kayak gitu, gue ngerasa perlu nyelametin diri. Gue diam-diam melipir ke tempat yang cukup aman sambil mengamati dari kejauhan. Ketika ada kesempatan, gue melengos pergi dari lokasi dan langsung pulang. Di dalam angkot, gue sempet kepikiran juga. Itu gimana ntar Ecci pulangnya ya. Rumah dia emang nggak jauh-jauh amat dari sekolah sih. Cuman jalan dikit lewat perkampungan dilanjut naik angkot bentar banget udah nyampe. Nah, justru itulah masalahnya. Masa iya, di daerah pemukiman padat penduduk gitu, Ecci yang tampilannya udah cemong banget mau jalan kaki seorang diri? Bisa-bisa digosipin atau disindir abis-abisan itu sama ibu-ibu nyinyir yang biasa nongkrong di depan rumah tetangganya. Belum lagi kalau dia udah masuk angkot dan duduk dempet-dempetan sama penumpang lain. Eeeeuwh…!!

    Eh, tapi itu juga kalau Ecci bisa pulang sih ya. Siapa tahu aja sebelum sempat keluar gerbang sekolah dia udah lebih dulu diculik sama ibu kantin yang bisa menghemat banyak biaya bikin gorengan karena tampilan Ecci yang udah kayak adonan kue. Tinggal ditemplokin lagi pakai mentega dan kasih sedikit gula, Ecci udah siap dipotong kecil-kecil, digoreng, dan dijual lima ratus perak di kantin besoknya.

    Astaga! Gue baru nyadar, rasanya tadi waktu pulang di kejauhan gue ngeliat ibu kantin jalan sambil bawa-bawa mentega, gula, sama baskom ke arah belakang deh. Itu kan berarti arah ke kelas gue…

    ***

    Karena sistem acak kelas tiap tahun, waktu kelas tiga SMP, gue udah nggak sekelas lagi sama Ecci. Kita udah agak jarang ketemuan. Apalagi, lulus SMP kita ngelanjutin ke sekolah yang beda. Kontak lewat telepon juga udah nggak gue lakonin karena nomor handphone dia yang terakhir gue simpen udah ilang. Baru berapa waktu lalu gue nemu account Facebooknya. Liat dari foto-fotonya sih rasanya dia keliatan agak berubah gitu ya. Tapi gue juga nggak yakin sih, secara udah nggak pernah ketemuan langsung. Yang jelas, gue yakin banget dia bakal inget kalau gue tanya kado ulang tahun luar biasa yang dia terima dari gue dan temen 8A lain waktu kelas dua SMP dulu.

    Terakhir, sebagai bonus, nih gue kasih foto Ecci yang gue colong dari Facebooknya. Sori ya kalau nggak ada gambar waktu kejadian karena pada jaman itu, handphone, apalagi yang berkamera, belum gitu populer di kalangan pelajar SMP, nggak kayak sekarang. Emang sih momennya nggak terabadikan lewat foto atau video, tapi pasti akan selalu terkenang di hati. 🙂 Langsung aja deh, buat yang penasaran sama Ecci, ini dia fotonya, selamat menikmati!

    Ini dia Ecci, keliatan agak kurusan sejak terakhir kali gue ketemu dia.

     
  • Fauzi EVR 8:41 am on March 31, 2011 Permalink | Reply  

    Psikologi Warna dalam Arsitektur 

    Psikologi Warna dalam Arsitektur.

     
  • Fauzi EVR 10:41 am on March 9, 2010 Permalink | Reply
    Tags: hiatus   

    Hiatus 

    Dengan sedih gw menyatakn blog ini memasuki masa hiatus sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Mari berdoa supaya gw masih bisa sesekali mampir dan update disini.
    Untuk sementara, gw pindahan dulu ke Ronny Fauzi.

     
  • Fauzi EVR 12:30 am on March 27, 2009 Permalink | Reply  

    Just 2 Left 

    Setelah dipikir2 hanya tinggal 2 kandidat yg tersisa..

     
  • Fauzi EVR 11:14 am on March 23, 2009 Permalink | Reply  

    GaDung (Gadis Berkerudung) 

    Gw blum pnya cew. Da 3 kandidat & smwnya pake kerudung. Gw g tw musti milih yg mana..

     
    • tetacantikk 4:00 am on March 24, 2009 Permalink | Reply

      let me guess! hmm…
      yg itu, yg itu, sama yg itu to??
      hahahahahaha xDD

    • uzi 2:46 am on March 25, 2009 Permalink | Reply

      @teta : hha.. sotoy.. org tu lo, yg ni, yg ni, ma yg ni..

    • nisa 1:23 pm on March 25, 2009 Permalink | Reply

      weh.. serem mas..

    • arif 1:06 am on February 23, 2010 Permalink | Reply

      yg sesuai dgn hati nurani 😀

  • Fauzi EVR 6:18 am on March 23, 2009 Permalink | Reply
    Tags: down   

    Never Felt So Down Before 

     
  • Fauzi EVR 12:49 am on March 13, 2009 Permalink | Reply  

    Tet, Ojok Ndeloki Ae Ta.. 

    Uzi:Anjritt.. Tet, stop looking at the monitor!!
    Teta:Nggak, ak lho ngga liat monitor. yeeeek 😛

     
  • Fauzi EVR 5:24 am on September 10, 2008 Permalink | Reply  

    iklan ,, iklan ,, GeJe kog mw laku . . . 

    Kalu liat TiPi jman skrg ,, isinya iklan mulu (pke kta jaman skrg cz kyakny jman dlu g da iklan) . Jdi aneh kalu liat acara yg da presenterny trus ngomong keak gni : “tidak terasa satu jam sudah saya menemani anda “ . mank sih acrany mulae jam ,, anggaplah ,, jm 10 trus bubar jm 11 . tp durasi bersihny plg cm 30 menit ja .

    kdang sk sebel c liat iklan ,, br kadang2 lcu jg . syg lbih bnyk yg g guna . tp ak dr masa” awal penayangan mpe skrg masih g ngerti maksud dr satu iklan yg luar biasa geje . tw g sih iklan Fren yg baru ,, yg frentetan gratizan tu lho .

    keakny (keakny cz g jls tujuanny tuh iklan) tu smacam iklan promo tarif atw smacamny deh . tp aneh bgt . masa tb” gni :

    si Otong (anggaplah dlm iklan tsb orgny nmany Otong gt yak ,, kan g tw..) dpt bonus pulsa ,, klu g salah sih ,, trus dy tuh blg keak gni : ‘ bisa beli lakban ‘ trus tb” da lakban ditgnny dy ‘bwt cabut bulu gakban‘  selanjutnya dcabut deh bulu kaki smacam robocop atw superhero Jepang kayak power ranger gt pke lakban td . trus si Gakban td blg ‘aduh ,, sakit dek ‘ pke intonasi yg aneh bgt gt & logat Madura .

    tu yg versi satu ,, da yg versi dua lho . ceritanya sm ,, cm settingny ja beda . yg kedua dikolam renang gt . trus si Otong blg gini : ‘ bisa beli ban ‘ & muncullah pelampung bebek2an ‘ bwt renang Gakban‘ tb” si robot dah nyemplung ja kekolam trus kesetrum & blg ‘mati saya Dek‘ lg” pke logat Madura .

    kalu km bingung bc post sy yg satu ni,, sy jg . abis iklanny mank geje . iklan promosi bonus pulsa ,, tp malah yg keluar lakban ma pelampung .

    iklan ,, iklan ,, GeJe kog mw laku . . . (*)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel