Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Ronny Fauzi 10:52 am on June 20, 2012 Permalink | Reply
    Tags: curanmor, mobil pikap, motor matic, yamaha mio   

    Awas Curanmor! 

    Diolah kembali dari http://mahasiswaarsitektur.wordpress.com/2012/06/01/awas-curanmor/
    Transportasi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia saat ini, terutama bagi mereka yang hidup di daerah perkotaan. Sayangnya, sarana transportasi massal yang ada di negeri ini sekarang rata-rata masih banyak yang belum bisa diandalkan. Oleh karenanya, banyak orang kemudian memilih untuk memiliki kendaraan pribadi untuk memenuhi kebutuhan transportasinya. Adanya kendaraan pribadi, entah itu mobil atau motor, tentunya akan memberikan kemudahan bagi masyarakat urban yang kebanyakan memiliki mobilitas tinggi.

    Sayangnya, akhir-akhir ini, pencurian kendaraan bermotor (curanmor), terutama di Surabaya, dilaporkan kembali marak. Terbayang bagaimana repotnya kalau sampai kendaraan kita menjadi sasaran pencurian ini. Bukan hanya mengalami kerugian materiil senilai kendaraan tersebut, kita juga pasti akan kerepotan dan banyak urusan kita yang mungkin jadi berantakan karena tiba-tiba saja mobilitas kita menjadi sangat terbatas. Tentunya kita perlu meningkatkan kewaspadaan agar nantinya kita tidak menjadi salah satu korban curanmor ini. Dalam postingan berikut ini, saya akan paparkan beberapa hal mengenai curanmor ini, bukannya untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberikan informasi yang semoga bisa membuat kita menjadi lebih berhati-hati lagi. Mari disimak!

    Kendaraan lawas atau dalam kondisi kurang gress tidak luput dari sasaran pencuri.

    Jangan salah sangka. Memiliki mobil atau motor keluaran lama tidak membuat Anda bisa mengurangi kewaspadaan. Bukan berarti kendaraan Anda sudah aman dari incaran pencuri hanya karena dalam anggapan Anda mereka lebih memilih untuk menggasak kendaraan yang lebih gress. Belum tentu.

    Dalam banyak kasus, yang menjadi sasaran pencurian justru adalah kendaraan lawas. Hasil curian kendaraan lawas ini nantinya akan ‘dikanibal’. Maksudnya begini, penadah punya stok kendaraan bobrok yang sudah tidak bisa dipakai lagi, padahal surat-suratnya lengkap. Si penadah ini kemudian mencari orang yang bisa mendapatkan kendaraan dengan jenis yang sama. Nomor mesin dan nomor rangka kendaraan bobrok tadi lalu ditempel pada kendaraan hasil curian, membuatnya seolah-olah kendaraan yang surat-suratnya lengkap. Itulah yang dimaksud dengan ‘dikanibal’. Tapi misalnya barang yang didapat tidak sesuai dengan pesanan, biasanya hasil kejahatan tersebut langsung dilempar kepada penadah onderdil bekas atau ke daerah pelosok yang jarang dijangkau polisi.

    Hati-hati para pemilik motor matic!

    BIla diperhatikan, sekarang ini semakin banyak saja pengendara motor matic yang berseliweran di jalanan. Apalagi, para produsen motor sepertinya bertambah gencar memproduksi & mempromosikan jenis motor yang sekarang sudah banyak sekali macamnya ini. Alhasil, permintaan pasar terhadap spare part motor matic ini pun otomatis melonjak. Barangkali, hal inilah yang melatarbelakangi tingginya angka curanmor terhadap kendaraan jenis matic akhir-akhir ini, terutama di Surabaya. Selain motor matic, yang sering dilaporkan hilang untuk kendaraan roda empat adalah mobil jenis pikap atau van. Untuk kendaraan jenis ini, motifnya kemungkinan rata-rata ya untuk dikanibal tadi.

    Meskipun dua jenis kendaraan tadi mencatat angka kejahatan tertinggi, bukan berarti pemilik kendaraan jenis lain lantas bisa ongkang kaki bersantai-santai begitu saja. Kasus yang melibatkan kendaraan jenis lain toh tetap ada walaupun jumlahnya mungkin tidak sebanyak motor matic atau pikap. Jadi, seperti kata Bang Napi: Waspadalah! Waspadalah!!!

    Tidak ada tempat yang benar-benar aman.

    Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, dilaporkan kasus curanmor di Surabaya ditemui paling banyak di area pemukiman sebanyak 22 kasus, disusul jalan umum (12 kasus), pertokoan, & tempat parkir masing-masing 3 kasus. Artinya, tidak ada tempat yang benar-benar aman. Kalau tempat parkir yang jelas-jelas dijaga saja masih bisa kecolongan, apalagi tempat yang tanpa penjagaan.

    Selain itu, ramai atau tidaknya situasi suatu tempat juga sudah tidak bisa lagi dijadikan patokan. Daerah yang sepi sudah pasti lebih rawan. Namun, daerah yang ramai pun tidak sepenuhnya lepas dari resiko. Masalahnya, sekarang para pelaku curanmor sudah memiliki perangkat khusus dalam beroperasi. Bahkan, perangkat ini biasanya telah disesuaikan dengan jenis kendaraan sasarannya. Misalnya untuk motor matic merek Yamaha Mio, maka alat yang digunakan adalah alat khusus untuk jenis kendaraan tersebut. Untuk motor atau kendaraan jenis lain, alat yang digunakan pun akan berbeda lagi. Dengan begitu, aksi mereka dapat dilakukan dengan mudah dalam hitungan detik saja. Alhasil, beroperasi di tempat ramai sekalipun bukan lagi menjadi masalah karena para pelaku dapat melarikan diri dengan cepat. Bahkan, bagi orang yang tidak memperhatikan, mereka ini mungkin saja dikira pemilik motornya sendiri yang menyalakan kontak.

    Tips mengantisipasi curanmor

    Karena saya bukan orang yang tahu banyak perkara ini, berikut saya berikan beberapa link ke website yang memberikan tips yang bermanfaat terkait curanmor yang bisa Anda simak.

    http://humaspoldametrojaya.blogspot.com/2009/08/tips-mencegah-curanmor-roda-dua.html

    http://blog.qitanet.com/tips-mencegah-pencurian-kendaraan-dan-merakit-pengaman-motor-sederhana.html?lang=id#more-428

    http://www.jgmotor.co.id/tips-menghindari-curanmor/

    Ronny Fauzi (*)

     
  • Ronny Fauzi 4:34 pm on October 31, 2011 Permalink | Reply  

    (GoVlog – Umum) Perang Ulat Bulu 

    Gue inget banget, dulu waktu masih SMA, gue cuma seorang anak yang kurus kerempeng, item, dekil, dan jerawatan. Bener-bener bukan suatu masa yang bisa dibanggain. Tapi itu toh udah berapa tahun yang lalu, sekarang beda lagi. Waktu berganti dan sekarang gue udah jadi anak yang kurus kerempeng, item, dekil, jerawatan, dan kuliah. Waktu itu, gue nyadar kalau gue bukan anak basket yang dengan tampang pas-pasan sekalipun pasti gampang banget dapet perhatian dari cewek-cewek. Maka gue memilih cara lain buat eksis.

    Waktu kelas 2 SMA, gue aktif banget ikutan OSIS & berbagai macam kepanitiaan event-event yang diadain di sekolah gue. Sumpah, masa-masa itu adalah masa-masa kejayaan gue. Gue jadi berasa kayak orang yang sok penting banget. Tiap pulang sekolah musti rapat begini-begitu, pas jam pelajaran juga sering keluar kelas buat ngurusin ini-itu atau minta tanda tangan sana-sini. Nggak jarang, kesempatan ini juga gue manfaatin kalau lagi pengin bolos dari beberapa pelajaran tertentu. Hehehe…

    Nggak ada alasan khusus sih masang foto ini. Seneng aja soalnya di foto ini gue keliatan cakepan dikit.

    Sayangnya, waktu terus berjalan dan gue pada akhirnya harus sampai di penghujung masa kelas 2 SMA. Gue udah mau lanjut kelas tiga, artinya gue harus ngelepasin berbagai kegiatan tadi dan fokus belajar buat ujian akhir. Setahun kemudian, gue udah lulus (alhamdulillah yah bisa lulus) dan harus ninggalin bangku SMA demi mengejar cita-cita gue menjadi seorang penyanyi dangdut arsitek. Yah, bisa dibilang, masa akhir kelas dua itu adalah salah satu masa galau yang gue alami selama sekian tahun gue nyicipin bangku sekolahan. Sebuah pertanyaan besar menghampiri benak gue. Pertanyaan besar itu adalah ‘GIMANA CARANYA GUE BISA TERUS EKSIS DI SEKOLAH INI? GIMANAA… GIMANAA… GIMAANAAA…???’ *joget Ayu Ting-Ting*.

    Gara-gara mikirin hal ini, gue jadi berubah. Gue jadi pendiam. Di kelas, gue duduk sendirian, kepala gue nunduk aja di atas meja, tangan gue ngepal, dahi gue agak keringat dingin, badan gue gemetar, perut gue melilit. Gue sadar kalau gue harus melakukan satu hal: minta izin pergi ke WC buat boker. Di WC, entah kenapa, gue bisa lebih konsentrasi. Gue kembali mikirin cara-cara yang bisa gue tempuh buat memperpanjang masa kejayaan gue.

    Ah, social media tentu aja. Gue bisa pakai Facebook atau Twitter buat numpang ngeksis ke anak-anak SMA bahkan kalaupun gue udah lulus. Tapi ada kelemahannya. Ngeksis di dunia maya tanpa terlihat eksis di dunia nyata itu sangatlah lame buat gue. Ibarat kata pepatah, bagaikan boker sambil kayang, sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan (eh, nggak nyambung ya?). Lagian, tanpa ketemu langsung, bakalan susah buat berusaha menggauli bergaul sama anak-anak baru. Masa iya gue harus add FB mereka satu-satu dan nge-post hal-hal nggak penting kayak ‘Hai, leh nal gak?’ atau ‘Like status FB-ku dong!’ ke wall mereka. Bisa-bisa gue malah dibalesin, ‘Mas, tolong cari teman bergaul yang seumuran ya…’

    Gue masih di dalem WC ceritanya. Gue juga masih mikirin nasib masa depan gue sambil sekali-kali ngejan kalau ada ‘pup’ yang bandel. Sekali waktu pas gue lagi ngejan, ternyata bukan cuma ‘itu’ yang keluar, tapi juga pikiran cemerlang gue. tiba-tiba aja kayak ada layar film gitu dipasang di depan gue. Ada gambar hitam putih ala-ala film lawas yang menayangkan orang-orang dewasa yang pakaiannya rapi jali, ngelipet tangan di depan dada, ada juga yang berkacak pinggang, bergerombol sambil ngeliatin sekumpulan anak muda push-ups di depan mereka. Semua gambar tadi diputer slow motion. Ah, gue nyaris aja nangis terharu karena akhirnya amunisi terakhir gue keluar bersamaan dengan selesainya gambar tadi.

    JADI SENIOR EKSKUL! Itulah jawaban atas kegalauan yang gue alami. Dengan jadi senior, gue bakalan ngerasa bebas main-main ke sekolah dan ‘memain-mainkan’ junior gue kalau gue udah lulus. Akhirnya, gue putusin buat ikutan ekskul, satu hal yang nggak pernah gue ikutin waktu kelas satu & kelas dua. Lebih spesifik lagi, gue bakalan ikut ekskul pecinta alam karena cuma di ekskul inilah senioritas berlaku seumur hidup. Bahkan, kalau lo udah punya anak cucu sekalipun, lo tetep bisa main-main sama anak baru.

    Setelah gue siram ‘hasil kerja’ gue di kloset, gue pakai celana gue dan mulai ketawa jahat, ketawa yang mengerikan. Gue terus ketawa sampai ada yang ngegedor-gedor pintu sambil teriak, “WOII..!!! BUKA DONG!! NGAPAIN AJA LU DI DALEM? BOKER APA BERANAK? “. Gue nggak peduli, yang ada di pikiran gue cuma bayangan diri gue sebagai seorang senior, yang kurus kerempeng, item, dekil, dan jerawatan.

    ***

    Satu hal yang gue pelajari setelah gue gabung di pecinta alam adalah nggak ada senioritas yang instan. Meskipun gue udah kelas tiga dan kenal anak-anak pecinta alam lain yang seangkatan sama gue dan itungannya udah senior, tetep aja gue berstatus ‘anak baru’ dan musti ngejalanin proses selayaknya anak baru yang lain, mulai dari nol.

    Salah satu proses awal tersebut nggak lain dan nggak bukan adalah diklat yang diadain di alam bebas, jauh dari peradaban manusia, memungkinkan gue digelindingin ke jurang sama senior tanpa ada saksi mata yang tahu. Atau bisa aja gue dilecehkan secara seksual di balik semak-semak sama macan yang lagi birahi waktu musim kawin. Atau juga, gue diculik sama suku primitif setempat yang masih menganut paham kanibalisme, trus gue dimutilasi atau dipanggang hidup-hidup. Atau, atau… Oke, gue parno. Tapi itu wajar. Gue pengin jadi seorang senior yang sangar, bukan korban dari senior yang sangar.

    Beberapa bulan sebelum diklat gue berusaha sekeras mungkin buat bertahan. Gue ikutin semua prosesnya dengan baik. Mulai dari ikut latihan fisik dan latihan rutin lain sampai materi di kelas dan “materi” di luar kelas. Gue sempet mikir, mungkin ada gunanya juga gue ngikutin proses ini. Paling nggak, kalau ntaran gue gagal jadi senior yang ditakutin karena muka gue yang lebih cenderung mesum bukannya serem, gue masih punya kesempatan buat jadi senior yang ditakutin karena badan gue yang gempal-gempal ngeri. Bagi yang nggak ngerti apa yang gue maksud, nih, silahkan diperhatikan foto ini baik-baik:

    Sebelumnya, tolong jangan mikir kalau itu foto anak kecil yang kegirangan digendong sama bapak-bapak tentara. Coba diperhatikan, yang di atas, yang mukanya bahagia banget kayak homo abis dicium Brad Pitt, itu gue. Sorry kalau ada yang kecewa begitu ngeliat tampang gue yang sebenarnya. Mungkin kalian mikir muka gue bakalan seganteng Robert Pattinson. Aduh, ekspektasi kalian terlalu tinggi, sorry. Nah, yang di bawah itu adek kelas gue. Biar gue ulangin, dia itu adek kelas setahun di bawah gue yang umurnya notabene lebih muda daripada gue tapi statusnya lebih senior di ekskul pecinta alam yang gue ikutin dan badannya dua kali lipat lebih gede.

    Oh, mungkin ada yang sempat mikir anak itu tiap hari mandi berendam di minyak tanah, makanya badannya bisa ngembang gitu. Gue sempet kepikiran yang sama, tapi harga minyak tanah waktu itu lagi mahal-mahalnya, jadi gue lupain hipotesis tadi. Yang jelas, si Aji, nama anak tadi, badannya mulai kebentuk kayak gitu sejak dia gabung di PA. Sebelumnya, dia nggak segempal itu.

    Nah, ini jadi motivasi dong buat gue. Kalau Aji baru setahun gabungan di PA badannya udah gitu aja, mungkin dalam waktu yang sama badan gue udah secakep Taylor Lautner kali ya.

    push-ups ratusan kali pun gue jabanin demi badan seksi

    Berbekal niat mulia seperti itu, gue pun rajin ikut latihan fisik yang diadain. Gila, ternyata nggak segampang itu, badan gue yang kurus tapi seksi ini ternyata nggak gampang diajakin olahraga berat. Untung aja gue masih bisa bertahan hidup sampai waktu diklat tiba.

    Hari H diklat, gue makin deg-degan. Tangan gue ngepal gemeteran dan dahi gue keringat dingin. Gue pengin boker. Saat-saat yang menegangkan seperti ini selalu bikin perut gue bekerja lebih efektif. Lain kali, kalau gue sembelit, tinggal ngelakuin hal-hal yang memacu adrenalin aja, misalnya lari ke ruang guru dan teriak-teriak bodoh “TOLONG JANGAN BILANG MEGAN FOX ITU BANCI!!” sambil kayang di tengah ruangan. Wah, menegangkan banget itu! Pasti setelah itu gue bisa pup dengan tenang, pastinya setelah dianiaya di ruang kepala sekolah akibat kenistaan yang gue perbuat.

    Setelah memantapkan hati sekali lagi dan memastikan perut gue udah aman, gue pun siap mengikuti diklat dan menyerahkan diri ke senior sepenuhnya. Selama upacara keberangkatan, gue berulang-ulang ngomong ke diri gue sendiri dalam hati, “Gue bakalan baik-baik aja, gue bakalan baik-baik aja. Gue nggak akan diperkosa sama macan horny, gue nggak akan diperkosa sama macan horny,” sampai gue bener-bener ngerasa tenang.

    Nungguin? Nungguin ya? Pasti udah bosen ya baca dari tadi panjang banget nggak selesai-selesai. Apalagi perkara ulat bulu yang jadi judul postingan ini sampai sekarang belum disebut-sebut. Sabar dong, santai aja kayak dibantai. Pepatah bilang orang sabar nggak gampang sembelit (oke, nggak nyambung lagi).

    Eh, jadi makin nggak selesai ya kalau ngelantur gini. Daripada makin emosi, ceritanya gue cepetin aja ya.

    Singkat cerita, gue bersama peserta yang lain udah nyampe di lokasi diklat, area hutan di bukit daerah Trawas, Mojokerto yang dikelilingi pegunungan. Setelah nyampe di lokasi dan sholat bentar, kami semua langsung lanjut tracking ke lokasi camp pertama. Tracking yang bikin kaki cenat-cenut karena jalanannya makadam (jalan berbatu gede-gede) lumayan panjang sebelum masuk ke hutan, mana ditambah hujan pula. Repotlah ya jalan pake sepatu ABRI yang keras itu lewat jalan batu-batu sambil bawa tas carrier gede dan berat ditambah keserimpet-serimpet jas hujan kelelawar.

    Sisa kegiatan setelah itu bisa gue laluin dengan cukup baik. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang (Avatar Aang mode: on). Malem hari, kelar bikin bivak (tenda darurat) dari jas hujan dan masak mie instan buat ngisi perut dan anget-angetan, gue ngerasa perlu pipis dulu sebelum tidur, sekedar jaga-jaga siapa tahu tidur di alam terbuka kayak gini bikin kebiasaan ngmpol gue kambuh. Melipirlah gue ke semak-semak tak bertuan di sekitar situ. Gue sengaja nyari yang nggak jauh-jauh amat dari camp sih, asal nggak keliatan orang aja. Kan repot juga kalau gue lagi pipis trus nggak sengaja ada kuntilanak mergokin. Kalau dia nafsu, trus guenya diculik, kan susah teriak minta tolong kalau jauh-jauh.

    Usai menunaikan tugas mulia, gue baru nyadar satu hal, gue nggak bawa air atau tissue. Udah jadi kebiasaan buat gue kalau abis pipis selalu ngebersihin ‘peralatan’ gue pakai air, paling jelek tissue lah. Kan najis juga kalau abis pipis langsung ditutup, kalau ada tetesan yang nyisa gimana coba? Karena nggak mungkin balik buat ngambil tissue dengan celana yang mempertontonkan aset pribadi gue, gue pun inisiatif buat ngambil daun buat ngelap.

    Dalam kegelapan, gue ngeraba-raba badan gue sendiri daun di sekitar gue. Terus terang, gue nggak punya kriteria khusus dalam memilih daun. Nggak perlu tinggi, putih, dan bohai kok (ini daun apa cewek?), asal nge-klik di hati, langsung gue pilih. Jadi, begitu gue megang satu daun dan ada keyakinan yang nggak bisa dijelasin muncul dalam hati gue, langsunglah gue petik. Set-set-set, lap-lap, beres. Gue udah bisa tidur enak.

    Baru aja gue balik badan mau balik ke bivak, tiba-tiba aja, “DARN, APA-APAAN NIH!? kENAPA TIBA-TIBA ADA BANYAK NYAMUK DALEM KEMPAS GUE YA?” Sumpah! Gue ngerasa ada banyak banget nyamuk bersarang dalem CD gue Dari rasa-rasanya, ada kali ya seratusan nyamuk yang nemplok dan nggigit di saat yang bersamaan di area sensitif gue. Rasanya tuh… panas dan… cekit-cekit… cekit-cekit… gitu. Spontan gue buka dikit celana sama kempas gue dan gue kibas-kibasin tangan gue di situ. Maksudnya, biar nyamuknya pada pergi gitu. Tapi kok nggak ada nyamuk sama sekali ya. Gue raba-raba ‘daerah lelaki’ gue sampai ke belakang-belakang, barangkali ada hewan kecil atau apa. Nggak ada apa-apa!

    Gue mulai panik. Lagu ‘Jangan Pipis Sembarangan’ sekonyong-konyong bergema dalem otak gue. Mungkin tadi itu ada om jin yang lagi bobok terus nggak sengaja gue kencingin kali ya? Ya tapi mau gimana lagi. Mana gue tahu ada om jin lagi tiduran di situ. Dia tuh yang bobok sembarangan, bukan gue yang pipis sembarangan.

    Setelah beberapa saat gue pun mulai pasrah. Nggak mungkin juga gue minta tolong senior. Gue nggak bisa aja menghadap ke senior dengan muka melas sambil bilang, “Mas, kayaknya ada yang salah sama titit saya. Bisa tolong liatin nggak?” Nggak, gue nggak bisa! Akhirnya, gue pasrah jalan balik ke camp.

    ulat bulu, yang jadi "kambing hitam" dalam insiden ini

    Di camp, gue ngeliat temen gue, Donny, yang baru beres bikin bivak. Ah, gue butuh curhat, siapa tahu juga Donny punya solusi atas krisis yang gue alami. Sambil jalan petantang-petenteng nahan sakit & krenyeng-krenyeng, gue samperin Donny yang baru kelar beresin bivaknya sendiri. Gue ceritain semua barusan gue alamin. Abis cerita, gue udah siap-siap mau ngejorokin Donny ke jurang kalau-kalau dia bersikeras pengin ngeliat dan megang-megang apa yang ada di dalem kancut gue. Ternyata dia cuma bilang, “Oh, mungkin kena ulat bulu…” dengan nada datar.

    Gue nunggu. Mungkin aja ada info tambahan yang mau dia bagi lagi, kayak misalnya, “Biar sembuh lo harus nyemplung ke dalem kawah Gunung Merapi,” atau “Sorry banget, gue nggak tahu cara nyembuhinnya. Tapi jangan khawatir, sebagai temen yang baik, gue bakal nyerahin harta warisan keluarga gue seluruhnya buat lo. Lo bisa pakai duit itu buat berobat sampai sembuh dan juga bersenang-senang” Tapi nggak ada, dia nggak bilang apa-apa lagi. Dia malah dengan enggan kembali menyibukkan diri sama bivaknya. Ah, gue harusnya udah tahu. Sebagai sesama peserta, dia sama nggak berdayanya kayak gue. Dari raut mukanya yang kecapekan, gue tahu banget kalau udah pengin buru-buru tidur sebelum tenaganya dikuras lagi besoknya. Gue juga pengin pergi tidur secepatnya. Tapi, rasa gatel-panas-perih di selangkangan gue rasanya bakalan ngeganggu baget.

    Karena udah nggak tahu lagi musti ngapain, akhirnya gue balik ke bivak gue sendiri dan berbaring di dalamnya. Pikiran gue bergejolak, nggak tenang banget. Gue putusin buat merem aja, nyoba buat tidur. Siapa tahu tidur bisa ngurangin bahkan ngilangin rasa sakit yang menyiksa yang telah memilih tempat yang salah buat nongkrong itu. Sebelum tidur, gue sempet berdoa, “Tuhan, jika Kau masih sayang pada hamba, maka selamatkanlah ‘titit’ku dari bahaya yang mengancam ini. Jika tidak, maka perkenankanlah aku menghabiskan sisa hidupku bersama Kim Kardashian.” Dan gue memejamkan mata, membawa serta semua rasa sakit dan Kim Kardashian ke alam mimpi gue…

    ***

    Gue bersyukur banget karena waktu bangun pagi besoknya rasa sakit-perih-cekit-cekit di area sensitif gue udah ilang dan gue baik-baik aja. ‘Adek kecil’ gue juga masih berfungsi dengan baik sampai sekarang. Alhamdulillah yah… Akhirnya gue bisa ngejalanin sisa diklat yang masih bejibun itu sampai tuntas.

    Semua gue jalanin dengan baik sih, kecuali satu kebodohan yang luar biasa nista yang gue bikin tepat sehari setelah insiden pipis sembarangan. Kejadiannya persis kayak hari sebelumnya, gue pengin pipis sebelum tidur, dan lagi-lagi kelupaan bawa tissue. Keinget omongannya Donny kalau kemarin gue kena ulat bulu, sekarang ini gue jadi lebih hati-hati banget milihin daun. Gue pastiin daun yang gue pilih ini adalah daun yang benar-benar bebas dari ulat bulu.

    Abis milih-milih daun selama beberapa saat, gue ambillah satu daun yang paling memenuhi persyaratan dan gue pake ngelap. Set… set… set… Gue nunggu bentar. Ah, alhmadulillah yah… RASA SAKITNYA MUNCUL LAGI!! Sumpah deh, gue jadi bingung. Rasanya pilihan gue udah tepat banget deh, nggak ada ulat bulunya, tapi kok tetep gatel perih ya? Belajar dari pengalaman sebelumnya, gue pun balik ke camp buat langsung tidur, karena tidur tampaknya satu-satunya hal yang bisa gue lakuin buat bikin keadaan lebih baik. Lagipula, rasa sakitnya nggak seheboh kemarin kok. Mungkin udah agak kebal kali ya.

    Belakangan, gue tahu kalau penyebab rasa sakit-perih-panas-luar-biasa-menyiksa yang gue rasain itu bukanlah ulat bulu, tapi emang tanaman yang gue pakai ngelap. Itu emang jenis tanaman yang menimbulkan sensasi luar biasa gitu kalau kena kulit bagian mana pun, bukan cuma kulit selangkangan. Tapi tetep aja pengetahuan baru itu nggak bisa mencegah gue ngelakuin kebodohan berikutnya.

    Beberapa waktu setelah acaranya kelar, diadain evaluasi diklat kemarin. Yah, namanya evaluasi sih, tapi formatnya lebih ke sharing-sharing gitu soal bayak hal terkait diklat, termasuk pengalaman unik dan seru yang mungkin dialamin pas diklat.

    Nggak tahu kenapa ya tiba-tiba aja gue ngacung. Itulah kebodohan gue. Dan karena udah terlanjur ngacung, mau nggak mau gue musti ngasih cerita juga ke semua yang dateng waktu itu. Semua orang mulai nyimak cerita gue dengan serius, beberapa nyimak sambil nyemil, ada juga yang nyimak sambil maenan handphone, bahkan ada juga yang nyimak sambil motongin rumput di taman depan. Eh, ternyata itu emang tukang kebun yang lagi kerja.

    Sebelum mulai cerita, gue tarik napas panjang-panjang, nyiapin mental gue. Setelah ngerasa bener-bener siap, baru gue cerita semuanya, termasuk soal ulat bulu. Belum juga kelar cerita, semua yang hadir udah ngakak aja nggak karu-karuan. Yang bikin gue sendiri heran, ngeliat orang-orang pada kesetanan kayak tadi, bukannya berhenti, gue malah lanjut cerita kalau kebodohan itu gue ulangin lagi hari berikutnya. Walhasil, ketawa orang-orang tadi malah makin keras dan meledak-ledak.

    Mas Gales, salah seorang senior gue, dengan masih nggak bisa nahan ketawa, tanya ke gue, “Wuahahaha… Ulat bulu ketemu ulat bulu! Terus, akhirnya yang menang ulat bulu yang mana?” Gue pun menjawab dengan senyum-senyum malu, “Ehh… ya ulat buluku dong, Mas.” Jawaban itu sekaligus menandai dimulainya karir gue sebagai legenda pecinta alam dengan ulat bulu yang kuat. Sejak saat itu pula, setiap kali ketemu anak baru, pesen pertama yang gue sampein selalu sama: JANGAN PERNAH NGELAP SEMBARANGAN KALAU PIPIS DI HUTAN!(*)

    Berkat gabung pecinta alam, mungkin suatu saat gue bisa berkarir sebagai tukang lap kaca gedung-gedung tinggi. Anyway, di foto ini, gue yang sebelah kanan.

    Gue juga bisa jalan-jalan ke tempat keren kayak gini.

    NB: Di awal-awal postingan, gue nulis seolah-olah para senior pecinta alam itu orang-orang yang sangar, jahat, dan nyeremin. Setelah beberapa waktu, gue sadar kalau gue salah. Justru senior-senior gue itu adalah orang-orang hebat yang banyak ngajarin pelajaran kehidupan ke gue. Buat para senior gue, MAICIH BANYAK LEVEL 10 YA…!!

     
  • Ronny Fauzi 3:39 pm on October 31, 2011 Permalink | Reply  

    (GoVlog – Umum) Selamat Ulang Tahun! 

    Momen ulang tahun bagi sebagian besar orang dianggap sebagai sesuatu yang istimewa. Gimana nggak, kejadiannya cuma setahun sekali ini, ya harus dilalui dengan bahagia dong. Buat anak sekolahan, cara paling mudah buat tahu ada yang barusan ulang tahun adalah dengan ngelihat area parkiran sekolah, lapangan, atau halaman depan kelas. Kalau ada bekas ceceran tepung atau telur mentah, berarti habis ada yang ulang tahun. Tipikal banget sih.

    Telor, benda yang wajib lo siapin kalo ada temen lo yang lagi ultah. Yang busuk jauh lebih bagus lagi.

    Kalau lo beruntung buat nyaksiin pelemparan telur dan tepung tadi secara langsung, lo bisa ikut-ikutan dong ngelemparin anak yang lagi ultah. Mungkin lo nggak kenal sama dia, tapi itu nggak masalah. Momen ini bakal jadi salah satu momen istimewa dalam hidupnya kan? Nah, dengan ikut berperan dalam peristiwa ini artinya lo juga ikut membantu menciptakan momen istimewa buat dia. Jadi, nggak usah malu-malu, hajar aja!

    Kalaupun ternyata lo nggak sempet ikutan ngerjain anak tadi dan cuma ngeliat bekas-bekasnya waktu nyampe di sekolah besok paginya, tenang! Lo tinggal cari tahu siapa yang ulang tahun. Kalau udah tahu, langkah berikutnya tinggal lo cari cara buat ngedeketin dia. Siapa tahu lo kecipratan traktiran. Lumayan kan?

    Sebagai seorang remaja yang pernah juga mengalami masa-masa labil, gue sendiri pernah beberapa kali ikut andil dalam proses ngerjain orang yang lagi ultah. Salah satu yang cukup sukses adalah waktu gue kelas 2 SMP.

    Yang jadi korban waktu itu adalah temen sekelas gue sendiri yang namanya Ecci. Beberapa hari sebelum hari H ulang tahunnya, tiba-tiba aja ada beberapa orang anak muda berpikiran licik yang punya ide untuk memunculkan sebuah skenario jahat buat ngancurin ngerayain hari istimewa temen gue yang satu itu.

    Ecci ini, sebagai seorang cewek, termasuk cewek yang asyik. Mungkin karena ngerasa nggak cantik-cantik amat, dia akhirnya milih buat nggak tampil girly dan lebih milih gaya yang slengekan. Salah satu kebiasaannya, sekaligus kebiasaan ribuan anak SMP lain termasuk gue, adalah jarang banget ngerjain PR. Nah, titik lemah itulah yang bakal kita serang. Dalam sebuah pertemuan rahasia yang melibatkan sekelompok kecil orang, mulailah dibahas strategi-strategi terjahat yang bisa bikin rencana kita berhasil.

    Provokatornya… Aduh, gue lupa yang mana orangnya. Pokoknya seinget gue yang pertama punya ide kayak gini adalah seorang cewek. Jadi kita sebut aja dia Bunga, siswi sebuah SMP negeri di kawasan Surabaya Barat, usia sekitaran 13-14 tahun. Nah, si Bunga inilah yang punya master plan-nya. Bunga ngebeber rencananya. “Supaya rencana kita sukses, kita bakalan ngajakin Bu Emy buat kerja sama bareng kita. Kita semua TAHU & YAKIN kalau Ecci nggak akan ngerjain PR-nya, jadi Bu Emy nanti nyuruh semua anak ngumpulin tugasnya dan manggil Ecci ke depan kelas sambil pura-pura marah karena tugasnya belum selesai. Mungkin nanti ada temen-temen yang lain, termasuk mungkin kita, yang juga belum selesai. Tapi nggak masalah, kumpulin aja semua biar nggak mencurigakan. Pokoknya siapapun yang belum ngerjain, yang dipanggil tetep Ecci, jadi kita aman.” Gue manggut-manggut. Bu Emy, guru yang ngajar Bahasa Indonesia ini emang asik banget orangnya, akrab sama muridnya, nggak kayak guru-guru yang lain. Kebetulan juga, Bu Emy punya jadwal ngajar kelas kita di hari Ecci ultah. Kloplah!

    Bunga masih belum selesai, dia pun ngelanjutin cerita, “Abis manggil, Bu Emy bakalan marah besar-besaran ke Ecci endebrey endebra endebrow. Nah, kalau udah klimaks, baru deh kita nyanyi lagu Selamat Ulang Tahun bareng-bareng. Gitu kira-kira. Ada yang mau nambahin?”

    Gue udah mau ngacung aja buat ngasih usul. Usul gue, kurang lebih kayak gini:

    (setting adegan di dalam ruang kelas)

    Bu Emy : Dessy (nama aslinya Ecci), kenapa tugas kamu belum selesai?

    Ecci : Eh… anu.. anu, Bu… itu…

    Pemeran temen cewek antagonis : (berteriak keras) Alaaah… Anu, anu aja! Kebanyakan alasan tuh. Udah Bu, kita hukum aja Bu bareng-bareng. Kita bakar dia di halaman sekolah!

    Pemeran temen cowok protagonis : (berdiri sambil nunjuk-nunjuk ke anak cewek tadi) Hei, jangan sembarangan ya kalau ngomong! Mana boleh kita bakar orang sembarangan. Aku masih bisa terima kalau kamu bilang dipasung, tapi kalau dibakar, itu udah keterlaluan. Dibakar itu panas tauk!

    Lalu perdebatan yang sengit pun tak terelakkan. Pihak-pihak yang pro-bakar Ecci -yang ternyata jumlahnya lebih banyak- pun mulai nyeret-nyeret Ecci ke luar kelas sementara Ecci nangis-nangis mengiba dan memelas ke Bu Emy, minta diselamatkan. Tapi, Bu Emy yang cuma seorang PNS biasa, yang gajinya nggak termasuk biaya menyelamatkan anak muridnya dari bahaya dibakar oleh massa, cuma bisa ngasih tatapan nanar buat Ecci.

    Sampai di luar kelas, Ecci langsung diguyur pake bensin sekujur badan. Waktu ada anak yang udah

    Demi efek dramatisasi yang kuat, kehadiran orang tua yang memohon-mohon sangatlah diperlukan.

    nyulut korek api hasil pinjem ibu kantin dan siap-siap dilemparin ke Ecci, tiba-tiba ibu kepsek dateng sebagai pihak penyelamat. Kalau memungkinkan, demi efek dramatisasi yang lebih kuat, mungkin bisa dimunculin tokoh orang tua Ecci yang dateng secara nggak terduga sambil memohon-mohon, “Tolong jangan bakar anak saya! Dia harus menguras bak mandi minggu ini. Kalau kalian bakar dia, SIAPA YANG AKAN MEGURAS BAK MANDI? SIAAPAAAA….???”. NAH! Setelah orang tuanya nangis-nangis itulah baru semua orang tepuk tangan sambil nyanyi lagu selamat ulang tahun. Dramatis banget itu!

    Gue udah nyaris ngebeberin rencana itu sampai otak bisnis gue ngeliat ada peluang yang lebih bagus yang bisa dimanfaatin. Skenario super dramatis yang gue rancang tadi bakal lebih menguntungkan kalau gue jual ke production house buat diangkat jadi cerita sinetron yang tayang di tivi tiap sore. Gue bahkan udah ngebayangin judulnya nih: PUTRI YANG DIBAKAR. Mengingat muatan cerita plus judulnya yang sangat bermutu dan udah pasti meledak di pasaran, gue rasa nggak berlebihan juga dong kalau misalnya gue minta ikutan syuting & jadi pemeran utama pria sebagai salah satu syarat cerita gue bisa digarap?

    Akhirnya, gue batalin keinginan gue buat ngasih usulan, biarin aja mereka ngejalanin rencana mereka sementara gue simpen rencana super yang lebih besar buat diri gue sendiri. Ah, gue bahkan bisa ngebayangin masa depan gue sebagai seorang aktor yang populer dan digandrungi para waria wanita, nggak ketinggalan juga duit bejibun yang bakal ngalir ke rekening gue pastinya, hasil main sinetron…

    ***

    Hari H penjebakan akhirnya datang juga. Rencana kejutan hari ulang tahun Ecci udah mulai beredar secara under ground. Hampir semua anak di kelas, kecuali Ecci pastinya, udah tahu bakalan ada gawe besar hari itu Semua pun tanpa banyak komentar lagi rasanya udah sepakat untuk menyukseskan rencana tersebut, dimulai dengan nggak ngucapin selamat ulang tahun sama sekali dan bersikap cuek-cuek jutek kalau ketemu sama Ecci.

    Ironisnya, Ecci yang jadi pemeran utama hari itu malah kelihatan sumringah banget dari pagi. Dikit-dikit jalan sana-sini, ngedeketin tiap anak sambil senyam-senyum mesum dan cengar-cengir nyinyir. Gayanya yang udah slengekan jadi makin sok asik gitu.

    Gue jadi ngerasa heran sendiri deh sama si Ecci Bayangin dong, dari semua orang yang dia samperin, nggak ada satu pun yang bersikap ramah, semuanya pada dingin dan cuek gitu nanggepin Ecci. Tapi, nggak tahu karena kelewat polos atau gimana ya, tetep aja dia nggak ngendus adanya skenario konspirasi besar yang sedang dijalankan diam-diam dan bertujuan untuk menjatuhkannya (weitseh bahasanya). Mukanya masih aja menampilkan aura-aura mesum bahagia tiada tara.

    Dari semua hal tadi, kesalahan terbesar yang dibuat Ecci terjadi waktu istirahat: dia pada nraktir temen-temen sekelasnya di kantin. Dan emang pada dasarnya oportunis ya, meskipun sedang dalam aksi pura-pura jutek, tetep aja kalau udah dikasih traktiran nggak ada yang bisa nolak. Akhirnya, mau nggak mau anak-anak pada ngasih ucapan selamat ulang tahun yang setengah hati, sekedar tindakan normatif lah. Parahnya, abis ditraktir anak-anak pada balik ke sifat semula, jutek & cuek. Meeeen…. kalau gue jadi Ecci, gue bakal mastiin masing-masing makanan yang dibagiin tadi udah dikasih racun tikus dulu sebelum masuk perut para teman-teman busuk tadi. Yah, sebagai salah satu temen busuk tersebut, sebenernya gue bersyukur juga sih karena abis makan jajan yang dibeliin Ecci gue masih hidup, jadi bisa lanjut pura-pura jutek palsu dan ikut berperan dalam acara utama nantinya. Hehehe…

    Singkat cerita, waktu yang telah ditunggu-tunggu pun tiba. Bu Emy, pemegang kunci utama pertunjukan masuk ke arena pementasan kelas. Setelah basa-basi dikit, beliau langsung nyuruh semua anak ngumpulin PR ke meja guru. As usual, anak-anak pada ngumpulin dengan grusa-grusu. Grusa-grusu palsulah yang jelas, biar nggak terlalu mencurigakan gitu. Ecci sendiri gue lihat mulai kelihatan cemas & gelisah. Mungkin dia lagi mikirin nasib Ayu Ting Ting yang masih belum nemu alamat palsunya (eh, nggak nyambung ya?). Pada akhirnya, mau nggak mau, rela nggak rela, Ecci musti ngumpulin PR juga. Ngeliat betapa beratnya dia ngelangkah ke meja guru, gue tebak dia mendadak kena syndrom kaki gajah ting ti waktu itu.

    Semua buku udah ngumpul di depan, berikutnya anak-anak pada anteng ngeliatin Bu Emy ngambil buku tugas satu per satu dan ngebolak-balik halaman demi halaman. Semua harap-harap cemas. Well, dalam keadaan normal emang ‘semua’ sih, tapi dalam kasus ini, mungkin kata ‘semua’ bisa diartikan sebagai ‘Ecci seorang diri’.

    Setelah menunggu beberapa saat, tiba juga waktunya… *backsound playing: musik orkestra serem kayak yang disetel di Spongebob episode dolar kesejuta Mr Krab* Bu Emy manggil Ecci ke depan kelas, “Dessy, maju ke depan!” Wah, pemanggilan sudah dilakukan! Skenario dimulai! Gue tegang banget! GUE BUTUH BOKER!! Ah, gue nggak mau nyia-nyiain momen ini. WC, kita bermesraan belakangan.

    Suasana hening sebentar. Semua orang menatap lurus ke depan. Sama sekali nggak ada yang berani bersuara, berbisik, bahkan bergerak sedikit pun. Gue bersyukur semua orang waktu itu masih tetep berani bernapas. Momen-momen seperti ini, momen dimana waktu seolah membeku sesaat dan ketegangan mengambang di udara, istilahnya building the tension. Mungkin sengaja diciptain sama Bu Emy biar Ecci bisa nyiapin mentalnya dulu bentar sebelum menerima kejutan yang lebih besar.

    Selanjutnya, kayak baca novel thriller, alur yang awalnya lambat terus diseret makin cepat dan makin menegangkan. Dimulai dengan pertanyaan datar ‘Kenapa kok belum ngerjain PR?’ dari Bu Emy, terus jawaban bohong seadanya dari Ecci, makin lama makin seru dengan bentakan-bentakan di antara kegelisahan dan ketakutan Ecci. Gue sendiri nggak gitu ingat banyak detail saking terhipnotisnya sama kemampuan akting luar biasa dari guru Bahasa Indonesia tercinta gue yang bernama Bu Emy. Bener-bener total! Gue nggak nyangka aja Bu Emy yang tiap hari orangnya asik, friendly, dan humoris tiba-tiba bisa meledak kayak bom nuklir gitu. Gue rasa emang Bu Emy, dengan kualitas akting jempolan kayak gitu, pas banget jadi pemeran antagonis utama di sinetron “Putri yang Dibakar”. Gesture-nya, mata melototnya, raut muka marahnya, bibir yang menyeringai mengancam, sumpah, Bu Emy juara! Dapet banget! Klimaksnya adalah waktu Bu Emy seinget gue ngebentak Ecci keras sambil ngegebrak meja.

    Ngelihat Bu Emy yang menjadi-jadi kayak gitu, walhasil seluruh kelas jadi ikutan keder dong, semuanya diam terpaku di bangku masing-masing. Tapi karena berhadapan langsung, efek yang dirasain Ecci pastinya berjuta-juta kali lebih dahsyat. Makanya, nggak heran deh kalau Ecci sampai nangis. Ya, saudara-saudara! Nangis! Dan itu air mata betulan, bukan iler atau ingus encer yang keluar dari mata.

    Nggak lama setelahnya, Bu Emy langsung ngomong, “Ya udah, lain kali jangan diulangi lagi. Sekarang ibu mau ngucapin dulu, SELAMAT ULANG TAHUUUN!!” Kedua tangan Bu Emy diangkat tinggi-tinggi, ngasih kode buat anak-anak yang langsung nyanyi lagu Happy Birthday bareng-bareng Nah! Kena deh! Anak-anak yang tadinya menggigil ketakutan di bangku masing-masing sekarang ikutan berdiri dan nyanyi lagu Happy Birthday keras-keras sambil tepuk tangan. Beberapa anak cewek yang agak terlalu antusias malah naik ke atas meja buat joget-joget, kayang, atau bahkan nyopotin seragamnya dan dilambai-lambaiin pake satu tangan. Oke, yang terakhir itu cuma imajinasi liar gue. Sorry.

    Ecci sendiri yang baru nyadar peristiwa yang berlangsung akhirnya tersenyum pahit, tapi tetep nggak berhenti nangis. Emang susah berhenti sih kalau nangisnya udah kayak Ecci. Dia nangis sesengukan sampai bahunya ikut keangkat-angkat kayak orang cegukan dan kesusahan ngomong gitu. Lo tahulah model nangis yang gue maksud, model-model nangis jaman SD dulu waktu kita dikampleng atau dijorokin sampe nyusrug ke aspal sama temen kita yang nggak terima kita ngolok-ngolokin nama bapaknya. Itu kan jenis nangis yang nggak bisa langsung ilang sekalipun lo dikasih permen satu minimarket supaya diem. Ya gitu itulah…

    Mungkin Ecci ngira setelah itu semuanya udah berakhir dan sisa hari itu bakal dia lalui dengan penuh kebahagiaan. Gue juga mikir kayak gitu sampai satu tragedi lain terjadi. Sepulang sekolah, tepat di halaman depan kelas, begitu keluar, Ecci tiba-tiba aja jadi sasaran lemparan tepung terigu & telur mentah. Standar aja sih sebenernya, ala ala anak sekolah pada umumnya. Tapi meskipun itu bukan kejadian yang pertama di dunia, tetep aja heboh. Seru aja sih ya bisa neplokin telur sama terigu ke muka orang lain. Kepuasan pribadi gitu, sesuatu deh!

    Bukan, bukan, ini bukan Ecci. Terlalu cantik ya... Ini cuma illustrasi kok.

    Dalam keadaan normal, gue akan dengan senang hati ngasih andil dalam ‘pesta’ itu. Cuman, gue ngeliat kondisinya agak kurang kondusif. Anak-anak keliatan brutal banget maennya. Mungkin ini semacam pelampiasan gitu ya karena sebelumnya peran mereka nol banget, semua dipegang sama Bu Emy. Dan Ecci, buruan kita hari itu, tampil nggak kalah agresif. Setelah tadi sepanjang pelajaran Bahasa Indonesia dia dibikin ketar-ketir setengah mati, sekarang giliran dia balas dendam dengan berusaha memberikan siapa pun yang ada di dekatnya sebuah pelukan hangat atau belaian mesra dengan tubuhnya yang lengket berlumuran terigu, telor mentah, dan air yang disiramin anak-anak.

    Meskipun kondisinya waktu itu kacau banget, untung aja nggak sampe kayak begini juga.

    Ngeliat kekacauan kayak gitu, gue ngerasa perlu nyelametin diri. Gue diam-diam melipir ke tempat yang cukup aman sambil mengamati dari kejauhan. Ketika ada kesempatan, gue melengos pergi dari lokasi dan langsung pulang. Di dalam angkot, gue sempet kepikiran juga. Itu gimana ntar Ecci pulangnya ya. Rumah dia emang nggak jauh-jauh amat dari sekolah sih. Cuman jalan dikit lewat perkampungan dilanjut naik angkot bentar banget udah nyampe. Nah, justru itulah masalahnya. Masa iya, di daerah pemukiman padat penduduk gitu, Ecci yang tampilannya udah cemong banget mau jalan kaki seorang diri? Bisa-bisa digosipin atau disindir abis-abisan itu sama ibu-ibu nyinyir yang biasa nongkrong di depan rumah tetangganya. Belum lagi kalau dia udah masuk angkot dan duduk dempet-dempetan sama penumpang lain. Eeeeuwh…!!

    Eh, tapi itu juga kalau Ecci bisa pulang sih ya. Siapa tahu aja sebelum sempat keluar gerbang sekolah dia udah lebih dulu diculik sama ibu kantin yang bisa menghemat banyak biaya bikin gorengan karena tampilan Ecci yang udah kayak adonan kue. Tinggal ditemplokin lagi pakai mentega dan kasih sedikit gula, Ecci udah siap dipotong kecil-kecil, digoreng, dan dijual lima ratus perak di kantin besoknya.

    Astaga! Gue baru nyadar, rasanya tadi waktu pulang di kejauhan gue ngeliat ibu kantin jalan sambil bawa-bawa mentega, gula, sama baskom ke arah belakang deh. Itu kan berarti arah ke kelas gue…

    ***

    Karena sistem acak kelas tiap tahun, waktu kelas tiga SMP, gue udah nggak sekelas lagi sama Ecci. Kita udah agak jarang ketemuan. Apalagi, lulus SMP kita ngelanjutin ke sekolah yang beda. Kontak lewat telepon juga udah nggak gue lakonin karena nomor handphone dia yang terakhir gue simpen udah ilang. Baru berapa waktu lalu gue nemu account Facebooknya. Liat dari foto-fotonya sih rasanya dia keliatan agak berubah gitu ya. Tapi gue juga nggak yakin sih, secara udah nggak pernah ketemuan langsung. Yang jelas, gue yakin banget dia bakal inget kalau gue tanya kado ulang tahun luar biasa yang dia terima dari gue dan temen 8A lain waktu kelas dua SMP dulu.

    Terakhir, sebagai bonus, nih gue kasih foto Ecci yang gue colong dari Facebooknya. Sori ya kalau nggak ada gambar waktu kejadian karena pada jaman itu, handphone, apalagi yang berkamera, belum gitu populer di kalangan pelajar SMP, nggak kayak sekarang. Emang sih momennya nggak terabadikan lewat foto atau video, tapi pasti akan selalu terkenang di hati. 🙂 Langsung aja deh, buat yang penasaran sama Ecci, ini dia fotonya, selamat menikmati!

    Ini dia Ecci, keliatan agak kurusan sejak terakhir kali gue ketemu dia.

     
  • Ronny Fauzi 8:41 am on March 31, 2011 Permalink | Reply  

    Psikologi Warna dalam Arsitektur 

    Psikologi Warna dalam Arsitektur.

     
  • Ronny Fauzi 12:19 pm on February 8, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , lomba, , , wordpress   

    Dukung Web Muda dalam Berkompetisi Ya… 

    Masih ingat postingan saya yang berjudul Minggu Kompetisi? Setelah sukses memetik hasil yang manis dari PBC, lomba blog pertama saya, kini saya mulai fokus pada lomba blog yang lain. Kompetisi Web Kompas MuDA & AQUA, begitu bunyinya. Tapi, untuk lomba tersebut, saya tidak menggunakan blog ini, melainkan sebuah blog baru lagi (masih di WordPress, masih gratisan) yang saya namai Web Muda.

    Lomba yang satu ini tantangannya berbeda dengan lomba yang sebelumnya dan jelas lebih sulit. Selain karena tingkatannya yang nasional -yang artinya saya musti bersaing dengan blogger muda se-Indonesia Raya, kompetisi yang diadakan oleh Kompas MuDA hasil kerjasamanya dengan Aqua ini cukup merepotkan saya dengan penilaian SEO-nya. Babak penyisihan awal yang memilih 200 besar nantinya akan dilakukan dengan pencarian melalui Google dengan kata kunci “Kompetisi Web Kompas MuDA & AQUA“. Dan saya benar-benar stress karena sampai saat ini blog yang saya akan ikutkan terdampar entah di mana pada halaman pencarian Google. Yah, semoga saja dalam waktu optimasi yang cukup singkat ini (deadline-nya tanggal 15 Februari) saya bisa mendapatkan keajaiban dari Allah SWT (as He has given to me before 🙂 ) dan bisa masuk 200 besar lalu mejadi juara. Amin.

    Jadi nih ya… para pembaca, adek, kakak, mas, mbak, abang, oom, tante, ibu, bapak, encang, encing, paklik, bulik, pakde, bude, semuanya deh, mulai sekarang saya sangat-sangat menyarankan -bahkan memaksakan- agar Anda sering-sering berkunjung ke Web Muda dan share, tweet, maupun memberi saran atau kritik melalui komen dan tak lupa juga mendukung saya melalui doa. Semoga saja setiap yang Anda lakukan yang semakin mendekatkan saya pada gelar juara akan dibalas dengan pahala yang berlimpah oleh Tuhan Yang Mahaesa. Amin. Saya tunggu di Web Muda ya… (*)

     
  • Ronny Fauzi 12:12 pm on February 8, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , ,   

    Dukungan Kompetisi Web Kompas Muda & AQUA 

    Sesuai judulnya, postingan ini hanyalah postingan dukungan untuk Kompetisi Web Kompas MuDA & AQUA yang sedang saya ikuti. Mau tidak mau, postingan dukungan ini jelas saya butuhkan untuk bisa membantu menaikkan peringkat Web Muda, blog yang saya gunakan untuk mengikuti kompetisi ini, pada halaman pencarian Google. Seperti yang sudah Anda ketahui, kompetisi hasil kerjasama Kompas MuDA dengan perusahaan air mineral terbesar di Indonesia, AQUA, ini menggunakan sistem SEO untuk menyaring peserta 200 besar. Kata kunci yang digunakan ya Kompetisi Web Kompas MuDA & AQUA, sesuai judul postingan ini lagi. Nah, agar bisa bersaing di ajang ini, tentu saya perlu melakukan langkah₋langkah untuk mengoptimasi blog yang saya ikutkan, salah satunya dengan postingan dukungan ini.

    Awal mula saya optimasi sebenarnya (menurut saya sih) sudah lumayan lama juga. Saya ingat betul mulai membuat blog baru khusus untuk lomba ini sebelum saya mengikuti lomba blog yang diadakan oleh Himasika ITS, Physics Blog Competition. Waktu itu pun belum banyak upaya optimasi yang saya lakukan. Hanya membuat blog dengan nama domain yang mengandung kata kunci dan sedikit urusan remeh temeh seperti mengatur judul, theme, dsb, baru itu saja. Saya baru mulai serius melakukan optimasi setelah lomba blog tersebut selesai pada 23 Januari lalu sampai saat ini.

    Awalnya, saya sempat panik karena blog saya tidak kunjung muncul di beberapa halaman awal Google. Lalu, saya berusaha lebih keras lagi, tebar link sana₋sini, memperbanyak postingan, dsb. Namun, hasilnya belum juga kelihatan. Saya lantas membuka Google dan mulai mengetikkan kata kunci, Kompetisi Web Kompas MuDA & AQUA. Kemudian, saya buka beberapa blog secara random dan mulai melihat₋lihat isinya. Ternyata, blog walking memang sangat₋sangat penting. Buktinya, setelah blog walking kesana kemari, saya menemukan beberapa “rahasia yang tidak diungkapkan” dari blog₋blog tersebut. Hehehe…

    Ide membuat postingan dukungan ini pun sejujurnya saya contek juga dari peserta lain yang berhasil menduduki halaman₋halaman awal Google. Bahkan, mungkin saking ndewo₋nya,  bukan hanya postingan utama, postingan dukungannya pun juga bercokol di halaman₋halaman awal hasil pencarian Google. Memang sih, dengan membuat postingan dukungan saya tidak lantas bisa langsung menempati halaman awal Google, bersanding dengan blog₋blog ndewo tadi. Tapi, paling tidak, semoga upaya saya ini bisa sedikit membantu. Semoga juga postingan ini dapat semakin mendekatkan saya pada gelar juara dalam kompetisi ini. Amin…

    Oh, soal peringkat saya di Google,  sampai saat ini masih fluktuatif. Minggu kemarin, saat pertama kali saya cek di Google dengan menelusuri satu persatu halaman (saya sampai nyaris frustasi), saya berhasil menemukan blog saya terdampar di halaman 43. Keesokan harinya, naik satu halaman ke 42. Kemudian, saat saya cek lagi besok atau lusanya, malah turun lagi dua halaman ke halaman 44. Terakhir, waktu saya menulis postingan ini, blog saya, Web Muda, malah turun lagi ke halaman 45 :(. Saya harap sampai hari deadline, blog saya mampu melesat naik sampai kalau bisa paling tidak sepuluh halaman. Hehehe… Amin, amin…

    Ya sudah, segini saja dulu ya. Terus dukung dan doakan saya agar bisa meraih kesuksesan di Kompetisi Web Kompas MuDA & AQUA ini ya!(*)

     
  • Ronny Fauzi 10:41 am on March 9, 2010 Permalink | Reply
    Tags: hiatus   

    Hiatus 

    Dengan sedih gw menyatakn blog ini memasuki masa hiatus sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Mari berdoa supaya gw masih bisa sesekali mampir dan update disini.
    Untuk sementara, gw pindahan dulu ke Ronny Fauzi.

     
  • Ronny Fauzi 3:22 am on January 14, 2010 Permalink | Reply
    Tags: ayah, bapak, copas   

    copas yang dicopas dan dicopas lagi 

    Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..

    Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

    Lalu bagaimana dengan Papa?

    Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,

    tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

    Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,

    tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

    Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……

    Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.

    Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…

    Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,

    Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….

    Tapi sadarkah kamu?

    Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

    Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.

    Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”

    Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

    Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :

    “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.

    Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.

    Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

    Ketika kamu sudah beranjak remaja….

    Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.

    Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?

    Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..

    Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…

    Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama….

    Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,

    Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

    Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)

    Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

    Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

    Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

    Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…

    Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…

    Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

    Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?

    “Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”

    Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

    Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…

    Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

    Ketika kamu menjadi gadis dewasa….

    Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…

    Papa harus melepasmu di bandara.

    Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?

    Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

    Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

    Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.

    Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

    Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.

    Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

    Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…

    Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”

    Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.

    Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

    Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

    Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

    Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

    Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

    Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..

    Karena Papa tahu…..

    Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

    Dan akhirnya….

    Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia….

    Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

    Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….

    Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….

    Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….

    Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”

    Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…

    Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….

    Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….

    Papa telah menyelesaikan tugasnya….

    Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…

    Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…

    Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…

    Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

    Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..

    HIDUP PAPA,AYAH,BAPAK

    Uzi says: mengharukan bukan sodara2. sbg salah satu calon bapak, gw bener2 tersentuh. ihiks..ihiks.. maaf ya, jadi cegukan gini.

    sumber: http://kangkung-darat.blogspot.com/2009/11/perempuan-baca-ini.html

     
    • fenyps 8:45 am on January 15, 2010 Permalink | Reply

      aku pernah baca ini uz. di notenya seseorag di fb. ternyata itu kopas dari blognya bojes to.. -. .-
      eniwei saiki rajin update rek. gayaaa.. ganti template pula 😀

    • uzianaknakal 8:31 am on January 18, 2010 Permalink | Reply

      @feny : itu lo dia ya copas dr kaskus.
      iya dong ngupdate. gak mau kalah sm kamu.

  • Ronny Fauzi 6:38 am on January 12, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , tumbuhan   

    Menguak Tabir Kentut pt. 2 

    Sudah bukan rahasia lagi kalo kotoran itu bisa dimanfaatin buat jadi pupuk yang menyuburkan tanaman. Nah, lalu bagaimanakah dengan kentut? Mampukah ia menjadi substitusi yang efektif sekaligus alternatif pengganti kotoran sebagai pupuk. Hasil pemikiran dan penelitian bodoh terakhir gw nunjukin kalo jawabannya adalah IYA. Bahkan kentut pun gw tengarai bisa mempercepat proses pemasakan buah. Tentunya semua pernyataan ini bukan tanpa alasan. Gw bahkan punya beberapa alasan buat ngomong kayak gini.

    Alasan pertama adalah bahwa kentut dan kotoran pada dasarnya adalah sama. Mereka berdua sama-sama hasil metabolisme tubuh dan produk dari sistem ekskresi yang tidak diinginkan. Keduanya sama-sama memiliki bau yang tidak main-main, bahkan tempat keluarnya pun sama, sama-sama lewat pintu belakang. Yang membedakan keduanya adalah wujud. Kotoran berbentuk agak padat, dalam keadaan tertentu bersifat koloid bahkan cair dan telecekan, sementara kentut mengambil wujud gas yang larut dalam udara dan tidak ditemukan dalam bentuk cair (pernah nemu kentut cair?). Berdasarkan hal ini, mustinya fungsionalitas kentut dan kotoran tidaklah jauh berbeda. Dengan demikian, kentut dapat mulai dipertimbangkan sebagai alternatif lain selain kotoran. Apalagi, seiring berkembangnya zaman, manusia akan menjadi sangat pelit. Mereka akan merasa sangat sayang membuang atau mengeluarkan sesuatu, mulai dari uang, energi, bahkan kotoran sekalipun. Hal inilah yang digadang-gadang akan membuat popularitas kentut sebagai pupuk akan semakin meroket. Mengingat orang yang membuang gas tidak akan merasa kehilangan apa-apa sebab kentut tidak memiliki sifat kasat mata seperti kotoran.

    Alasan berikutnya berkaitan dengan hormon pertumbuhan pada tumbuhan. Tahukah kalian bahwa salah satu hormon pada tumbuhan yang memicu pemasakan buah adalah Gas Etilen. What do you think about this? Dia berwujud gas dan berkaitan dengan etil. Buat yang sudah belajar kimia karbon atau kimia organik pasti tahu bahwa etil adalah nama gugus alkil yang memiliki rumus C2H5. Seperti kita tahu, hidrokarbon adalah senyawa organik yang dapat kita temui pada makhluk hidup. Tentunya kentut yang berasal dari makhluk hidup pun merupakan senyawa hidrokarbon. Dan tidak diragukan lagi bahwa kentut merupakan etana, senyawa hidrokarbon yang memiliki 2 atom karbon pada rantai utamanya dan berbentuk gas. Kentut bukanlah gas metana karena gas metana biasanya didapat dari kotoran makhluk hidup yang diuraikan oleh bakteri. Jadi, bisa dilihat disini bahwa Gas Etilen memiliki kaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan dari kentut.
    Gw harap, hasil penemuan fenomenal ini nantinya bisa memberikan kontribusi yang besar bagi dunia pertanian Indonesia dan dunia pada umumnya (naudubileh, amit-amit jabang orok…). Jadi, tunggu apalagi? Kalo lo pengin taneman lo tumbuh subur dan buahnya cepet mateng, kentutilah! (*)

     
    • fenyps 10:24 am on January 13, 2010 Permalink | Reply

      ada uz kentut cair! kalo kentut, trus tanpa sengaja keluar eek dikit. bisa cair, bisa padat!

    • uzianaknakal 2:50 am on January 14, 2010 Permalink | Reply

      @feny : itu bukan kentutnya yang cair sayang… eeknya yg cair. tapi mungkin nanti bisa kita bikin prototipe kentut cair, br penggunannya lebih praktis. kuliah sek tapi.

  • Ronny Fauzi 6:36 am on January 12, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , kotoran, pupuk, rahasia   

    Menguak Tabir Kentut pt. 1 

    Seringkali, bagi gw, tempat-tempat yang tidak terduga justru bisa jadi sumber inspirasi tiada terkira. Salah satu tempat yang cukup inspiratif bagi gw adalah WC. Gw bukan tipe orang yang suka menghabiskan waktu di WC dengan membaca koran. Gw adalah orang yg sangat menikmati setiap detik yang gw habiskan diatas WC. Sambil menikmati masa-masa mendulang emas, gw suka ngelamun, kadang-kadang sambil nyanyi. Gak tau ya, kalo udah di kamar mandi bawaannya pengin nyanyi mulu. Nah, berawal dari kebiasaan ngelamun inilah gw dapet nama Amroz Prekosa (perhatikan dengan baik ya, itu ‘pre’ bukan ‘per’) yang kemudian jadi cikal bakal UZI OSA, nama email gw saat ini, yang sering menuai godaan penuh limpahan cinta dan kasih sayang dari anak-anak 12 p 2, you know what I mean. Padahal nama itu udah gw pake dr SMP lho. Anyway, dari kebiasaan ngelamun ini jugalah gw nemuin sebuah teori yang menarik tentang kentut.

    Gw nemuin bahwa kentut adalah salah satu contoh keadilan Tuhan yang paling kecil. Dan hal ini sepertinya sering luput dari perhatian orang-orang. Mungkin bagi lo hal ini udah basi.Alah, yang kayak gitu juga udah banyak yang tahu. Orang sakit ada yang gak bisa kentut dan pengin kentut kan? Terus kalo bisa kentut tandanya masih sehat, masih normal kan?

    Okay, itu emang bener. Tapi bukan, bukan itu. Gw punya sudut pandang yang lain, yang lebih sederhana, tapi kalo dipikir-pikir bisa jadi cukup penting. Yang gw kemukakan disini adalah kaitan antara bau kentut, bau kotoran (eek), dan daya tarik seseorang dalam mendapatkan pasangan. Well, okay, abaikan poin terakhir. Sekarang langsung aja, begini ceritanya.

    Sering gak sih loe ngerasa jengkel waktu ada orang di deket loe kentut sembarangan. Kayak temen gw Fahmi yang duduk paling depan dan buang gas waktu gw lagi presentasi dan bikin presentasi gw tertunda. Apalagi dia tidak mau mengakui kebiadabannya tersebut, malah bikin temen gw yang lain, Aye, yang notabene perempuan berkerudung dan alim (meskipun cawak & preman, dia tetep perempuan kok, dan sudah teruji secara klinis), harus menanggung kenistaannya tersebut sebagai tertuduh. Untungnya, waktu istirahat, gw interogasi dia dan berhasil bikin dia ngaku. Tapi gw dan Mbak Aye cukup bijaksana dan lapang dada untuk tidak menyayat-nyayat kulitnya dengan garpu berkarat dan menetesi lukanya dengan air jeruk nipis + garam membawa kasus ini ke pengadilan. Apalagi, pengakuannya sudah cukup menyelamatkan nama baik Mbak Aye dari perbuatan amoral itu.

    Bukan sekali itu aja sih dia kentut tidak pada tempatnya. Tentu bukan berarti ada tempat khusus buat ngentut atau sebagainya. Maksud gw adalah kentutnya itu kagak bertanggung jawab. Udah sering dia kentut sembarangan kayak gitu. Pernah dia kentut waktu ulangan. Lagi konsentrasi, tanpa dinyana dia mengeluarkan nyanyian bokong yang mengalun indah, keras, bernada, dan berulang-ulang. Waktu itu gw duduk di sebelahnya. Jelas aja gw kaget. Untung gw bisa nahan diri buat gak noyor-noyorin kepalanya dia ke atas meja sambil nepokin bokongnya sekeras-kerasnya.

    Yang paling parah gw inget waktu gw kelas satu. Waktu itu kelas gw diforum sama kakak kelas 11 karena kelas kita mbolos dari latihan cheerliar dengan alasan foto kelas di Tugu Pahlawan. Jelas-jelas suasananya lagi gak enak, lagi dimarahin kayak gitu, eh, tiba-tiba si Fahmi kentut. Bunyi dan berirama lagi. Untung aja waktu itu yang ngeforum cuma sebiji orang, itu pun baik orangnya. Kalo kagak, uh, udah dikeroyok kali kita.
    Wow, kita membicarakan Fahmi terlalu jauh. Mari kita kembali lagi ke pembicaraan awal. Mungkin kita ngerasa, buset, busuk banget kentut tuh orang. Mungkin begitu juga yang dirasain orang waktu kita kentut. Padahal, kita fine-fine aja tuh. Apaan sih, heboh banget sama kentut gw, perasaan kagak sebusuk itu deh. Hidung lo aja kali kelewat sensitif. Itulah poinnya. Kita tidak pernah menyadari bahwa bau kentut kita sunnguh nista, atau mungkin kita sadar, namun kita bisa menikmati itu, sedangkan orang lain nggak. Seperti yang gw alami beberapa hari lalu. Gw kagak tahu apa yg salah sama perut gw, tapi gw tiba-tiba kentut terus. Tipe kentut yang halus, tanpa suara, dan menimbulkan sensasi berdesir tiap kali keluar. Dan memang kentut seperti inilah yang paling bau. Tenang dan menghanyutkan. Gw sadar akan kebusukan kentut gw, dan gw tahu kalo itu emang busuk banget, tapi gw bisa menikmatinya. Karena itu kentut gw sendiri, bukan punya orang yang lepas.

    Itulah letak keadilan dan kebijaksanaan Tuhan, bahwa kita diberi kemampuan untuk mentolerir bau kentut kita sendiri. Mungkin saja ada beberapa orang yang over sensitif sama bau. Nyium bau sampah dikit aja langsung pingsan atau gimana. Tapi dia bisa bertahan boker selama berjam-jam bersama bau kentut dan kotorannya yang bercampur menjadi satu. Coba bayangin, kalo orang boker dan gak tahan sama bau yang dia bikin. Kagak elit banget kan lo pingsan waktu boker. Bukan karena suatu penyakit yang namanya keren yang berbahaya, tapi cuman karena lo kagak nahan sama bau kotoran lo sendiri. Tragis sekali saudara-saudara. Itulah mengapa kita perlu memaklumi bau kentut orang lain, seperti mereka pun selayaknya mentolerir kentut kita. Hidup kentut! (*)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel